Menurutnya, diare disebabkan oleh faktor ketersediaan air bersih, lingkungan dan juga perilaku. Di bulan puasa masyarakat biasa membeli makanan di luar. Hal itu menjadi potensi diare mudah menyerang.
"Berkurangnya sumber air bersih pada musim kemarau terkadang membuat masyarakat mengambil air dari sungai. Faktor kebersihan lingkungan juga mempengaruhi angka kasus diare," ujar Fita di ruang kerjanya Kantor Dinas Kesehatan Jalan Pasteur, Jumat (28/8/2009).
Apalagi baru-baru ini tercatat sejak tanggal 22 hingga 26 Agustus di Kabupaten Bogor ada sebanyak 211 kasus diare dan sudah dinyatakan kasus luar biasa (KLB). Begitupun di Kabupaten Tasikmalaya mengalami peningkatan status diare.
Fita menjelaskan, selama tahun 2008 jumlah kasus diare di Jabar mencapai 1.081.746 kasus dengan jumlah orang yang meninggal sampai 78 orang. Penyebab diare hingga menyebabkan kematian biasanya karena dehidrasi berat.
Dehidrasi, membuat cairan tubuh keluar semuanya dan membuat pembuluh darah menyempit. Untuk mencegah dan mengobatinya dengan mengganti cairan yang keluar.
"Misalnya membuang air hingga 2 liter ya kita harus menggantinya dua liter tapi bukan sekadar mengisi cairan dengan minum tapi cairan seperti oralit atau pengganti cairan tubuh yang sekarang banyak beredar di pasaran. Atau kita bisa buat air putih yang dicampur gula dan garam," ujar Fita.
(ema/ern)











































