Hal tersebut diungkapkan Kepala Bulog Divre Jabar Agusdin Fariedh yang ditemui di ruang kerjanya, di Jalan Soekarno Hatta, Rabu (26/8/2009).
"Kami (Bulog-red) siap melakukan OP atau stabilisasi harga jika ada perbedaan harga hingga sekitar 25 persen di pasaran. Namun melihat kondisi yang cukup stabil, sepertinya tidak akan ada OP, sama seperti tahun lalu," terang Fariedh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga beras medium berdasarkan harga beli pemerintah yaitu Rp 4.600 perkilogram. OP akan dilakukan jika harga beras medium tersebut mencapai harga sekitar Rp 6 ribu.
Kalaupun saat ini ada perbedaan harga beras di sejumlah tempat, menurut Fariedh hal itu disebabkan kategori daerahnya apakah produsen atau konsumen.
"Di daerah produsen seperti Cirebon saya dengar malah turun, walaupun ada juga daerah lainnya yang katanya naik. Tapi sampai saat ini masih bisa ditolerir," ujarnya.
Perbedaan harga yang lebih murah di daerah produsen karena daerah tersebut tidak perlu menambah biaya pengiriman. "Mereka menghasilkan beras sendiri, dimakan sendiri tidak perlu suplai dari daerah lain, berbeda dengan Bandung misalnya," tambahnya.
Fariedh menyebut daerah yang tergolong daeah produsen beras Bulog diantaranya Cirebon, Karawang dan Indramayu. Sedangkan daerah konsumen yaitu Bandung, Sumedang, Ciamis dan Cianjur.
"Seperti Cianjur, mereka sebenarnya penghasil beras. Namun yang kualitasnya baik, bukan yang diserap Bulog. Tapi masyarakatnya mengkonsumsi beras Bulog," ungkap Fariedh.
Sementara itu hingga kini penyerapan beras Bulog tahun ini telah mencapai 556 ribu ton dari target sebesar 500 ribu ton. Penyimpanan beras Bulog dilakukan di 7 Sub Divre Jabar yaitu di Bandung, Ciamis, Cianjur, Cirebon, Indramayu, Subang dan Karawang.
(tya/ema)











































