Sekretaris DPW Persis Jabar Ichsan Latief mengatakan mengemis memang menghinakan diri sendiri, seperti dalam sebuah hadis yang mengatakan jika tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
"Memberi bagi yang membutuhkan itu enggak masalah. Namun untuk mengetahui orang itu butuh atau tidak, kita samar. Kita kadang tak bisa membedakan mana pengemis profesi dan mana yang benar-benar butuh," ujar Ichsan saat dihubungi detikbandung melalui telepon, Selasa (25/8/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendapat serupa juga dilontarkan Ketua PW Muhammadiyah Jabar Dadang Kahmad. Menurutnya selama kondisi ekonomi Indonesia masih sulit, pengemis profesi maupun pengemis yang benar-benar butuh akan tetap muncul.
"Bagi saya memberi siapa pun tidak masalah. Toh ada hadis nabi yang mengatakan berilah orang yang meminta-minta walaupun yang meminta itu memakai gelang emas," ujarnya.
Apalagi, lanjutnya, kita sangat sulit membedakan pengemis profesi dan yang benar-benar butuh terutama di jalanan. "Niat memberi saja sudah bagus, soal yang dikasihnya itu pura-pura atau betulan, itu bukan persoalan pemberi," tegasnya.
Sementara itu Ketua Persatuan Umat Islam Jabar Djadja Djahari mengatakan pemberi yang memang sudah mengetahui jika si pengemisnya itu hanya pura-pura bisa dikatakan haram.
"Kalau sama sekali tidak tahu ya enggak haram lah. Tapi saat ini sangat sulit membedakan mana pengemis yang benar-benar butuh dan mana yang pura-pura. Ya kita kembalikan ke hati nurani saja, sudah terasa kok auranya mana yang bohong dan mana yang benar-benar butuh," katanya.
MUI Kota Bandung menyambut baik fatwa haram mengemis yang dijadikan profesi dan juga dikoordinir. Namun MUI Bandung juga menilai para pemberi sedekah para pengemis kategori di atas juga bisa dikatakan haram, jika si pemberi sudah tahu pengemis itu hanya pura-pura.
(ern/ema)










































