Sambil berdiri, bocah lelaki itu terus menempelkan kepala di dada salah seorang polisi. Menghindari sorot kamera wartawan, wajah pun ditutup kupluk jaket biru tua. Tangan kanannya memegang erat kupluk, sementara tangan kiri menggenggam tisu.
Sesekali tisu itu dipergunakan untuk membasuh air mata. TPG (12) tak berkomentar banyak ihwal SMS teror bom ke RSHS Bandung. Dirinya mengaku tidak sengaja.
"Saat itu jengkel sama SMS yang isinya menjanjikan hadiah mobil. Saya sudah tahu kalau yang begitu menipu," katanya kepada wartawan di Mapolwiltabes Bandung, Sabtu (22/8/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya SMS yang isinya bom akan meledak jam 11 malam. Saya SMS bom biar orang yang ngirim SMS hadiah bohongan itu menjadi takut," jelasnya sambil terus menutup wajahnya.
Namun siapa sangka, ulah bocah tersebut harus berurusan dengan pihak kepolisian. Rupanya, isi SMS itu terkirim ke SMS online services RSHS.
"Saya tidak sengaja dan tidak tahu kalau itu nomor telepon rumah sakit. Saya kapok," ujar TPG yang kembali membasuh air matanya dengan tisu.
Satreskrim Polwiltabes Bandung meringkus bocah itu di Tasikmalaya, Jumat (21/8/2009). TPG diketahui sebagai peneror bom via SMS ke RSHS Bandung. Ancaman teror ini baru diketahui oleh pihak rumah sakit pada pukul 07.00 WIB, Selasa (18/8/2009). Padahal dari isi SMS tersebut, dikatakan bom akan diledakan pada pukul 23.00 WIB, Senin malam (17/8/2009). (bbp/bbp)











































