Sejumlah organisasi atau lembaga seperti KBR 68 H Jakarta, Jaringan Peduli Kemanusiaan Bandung dan Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir berupaya 'menghidupkan' kembali Munir kehadapan masyarakat lewat jalur yang dianggap sangat universal, musik.
"Selama ini perjuangan pengusutan kematian Munir selalu disampaikan dengan aksi, demonstrasi dan hal-hal yang frontal langsung kepada yang berwenang, namun hasilnya masih belum terlihat sehingga kami mencoba menggunakan metode yang lebih soft dan mengena pada publik, ya dengan musik ini," tutur ketua panitia Desire For Justice, A Tribute Moment For Munir di Bandung Husni K Effendi kepada detikbandung, Kamis (13/8/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami yakin musik bisa menyuarakan keadilan bagi Munir dan seluruh bangsa Indonesia utamanya yang berkaitan dengan penegakan HAM," sambung Husni.
Uniknya lagi, acara ini diselenggarakan di mall. Sangat berseberangan dengan imej Munir yang lekat dengan LSM, Aktivis, dan berbagai aspek non komersil lainnya.
"Kami sengaja menyelenggarakan di mall, mengingat perjuangan Munir bersifat universal, tidak sebatas komunitas atau forum diskusi tertentu," ujar Husni.
Acara dibagi dalam dua sesi, pre event tanggal 13 Agustus 2009 dan puncaknya pada 15 Agustus 2009. Untuk sesi pertama, acara dimeriahkan oleh penampilan dari Kelompok Belajar (Kober) Band, Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), D-Army, Evil Sick, Ghettorude, Bandung Breakers dan sejumlah penampil dari Bandung Hiphop Community.
"Para penampil tidak hanya sekedar tampil, tapi juga memberikan orasi singkat tentang Munir, karena dalam kenyataannya masih banyak orang yang belum tahu siapa Munir," tambah Husni.
Sejak dimulai pukul 16.00 WIB arena pelataran Eplex PVJ sudah dipadati oleh masa yang sebagian besar adalah generasi muda. Sambil menonton pertunjukan, sebagian penonton membubuhkan pesan untuk Munir di selembar kain putih berukuran 10 x 1,5 meter.
Usai menyaksikan penampilan di ruang outdoor, penonton diajak untuk menyaksikan film dokumenter terbaru Munir. "Kiri Hijau-Kanan Merah".
"Kalau dari judulnya, itu adalah sindiran kepada sejumlah pihak yang kerap mendeskriditkan 'Kaum Kiri' makanya kita balik. Sedangkan konten filmnya sendiri diupayakan untuk dikemas lebih ringan namun tetap mengena pada sasaran" tutur Husni.
Seluruh penampil dan penonton yang hadir, begitu antusias dalam mengapresiasi event ini. Munir memang tidak akan pernah hidup kembali, tapi semangat dan apresiasi masyarakat Bandung malam itu membuat api semangat Munir semakin berkobar.
(dip/lom)










































