Pegiat sastra di Bandung yang tergabung dalam Majelis Sastra Bandung menggelar doa bersama mengenang penyair WS Rendra di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Minggu (9/8/2009). Uniknya, doa yang disampaikan sejumlah pegiat sastra ini beragam cara. Namun tetap berlangsung khusuk.Β
Sekitar 40 orang duduk di lantai membentuk formasi melingkar. Beberapa pegiat sastra di Bandung ini mendoakan WS Rendra dengan masing-masing caranya.
"Kami berdoa untuk almarhum Mas Willy (panggilan WS Rendra, red). Ahda Imran memulainya berdoa, lalu Budi Rajab berdoa dengan caranya. Untung berdoa dengan membaca puisi. Kang Ganjar berdoa dengan memetik gitar dan bernyanyi. Saya memimpin doa dengan AL-Fatihah. Sementara Gusjur Mahesa berdoa lewat monolog," ujar Matdon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Mahesa, WS Rendra bukan hanya seorang sastrawan yang hanya bisa bersyair. Tetapi ia juga pandai memijat. "Aku pernah di suruhnya memijat kakinya sampai aku benar-benar lelah. Lalu dia memberi cara bagaimana memijat," ucap Mahesa dalam monolognya.
Mahesa kepada wartawan usai doa bersama itu mengatakan, sosok WS Rendra menjadi panutan bagi dirinya. "Mas Rendra adalah seorang guru yang baik. Meski ia sering bilang kepada saya, beliau bukan guru yang baik. Ia juga sering bilang, jangan meniru saya yang jeleknya," ungkap Mahesa.
Acara tersebut juga diisi dengan aksi musikalisasi puisi dari Ganjar. Ada pula pembacaan salah satu puisi karya WS Rendra oleh Untung. Di acara ini hadir pegiat sastra di Bandung di antaranya Matdon, Budi Rajab, Ahda Imran, Desiyanti, Semi Ikra Anggara, Untung, Ihung, Restu Ashari Putera, Johan Khaeirul Zaman, Agus Bebeng dan Ganjar. (bbp/bbp)











































