Dikatakan Ketua Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) Sugito Wonodirekso seusai seminar nasional 'Revitalisasi dan Pemberdayaan Dokter Praktik Umum/Dokter Keluarga menunjang Milenium Development Goal' di Grha Kompas, Jalan RE Martadinata, Kamis (6/8/2009), praktik dokter keluarga cukup berbeda dengan dokter praktik umum.
Sugito mengatakan, dalam praktiknya dokter keluarga terbilang 'mesra' dalam menangani pasiennya. "Dokter keluarga bukan hanya mencari penyebab penyakit saja, tapi juga aspek psikologis pasiennya," kata Sugito.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan, dalam penanganan penyakit keluhan pusing tidak selalu harus ditangani secara medik oleh dokter keluarga, namun juga mencari jawaban bagaimana kondisi pasien saat berada dalam lingkungan ia tinggal, komunitas pun keluarga.
"Kalau pasien pusing cukup istirahat saja dan lihat keadaan tiga hari ke depan, kalau tidak kunjung sembuh maka akan ditangani secara medik," kata Sugianto.
Saat ini, kata Sugianto, pandangan masyarakat terhadap dokter keluarga ataupun praktik umum dikalahkan dengan keberadaan dokter spesialis. "Tidak ada sosialisasi tentang keberadaan dan pentingnya dokter keluarga, sementara masyarakat lebih memilih dokter spesialis karena dianggap lebih pintar dari dokter umum," ujar Sugianto, seraya menambahkan dokter umum dapat menjadi dokter keluarga melalui pelatihan yang digelar PKDI.
Dalam praktiknya, jelas Sugianto, jika dibandingkan dengan dokter spesialis, dokter keluarga mampu meminimalisir biaya kesehatan pasien dalam setiap penanganannya.
"Dokter keluarga bukan berarti dokter sebuah keluarga. Tapi, dokter yang merupakan bagian integral individu pasien. Dokter keluarga dapat berperan sebagai teman, konsultan atau sahabat bagi pasiennya," kata Sugi.
(ahy/bbp)











































