Hal tersebut diungkapkan dokter ahli jiwa dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dr Teddy Hidayat Sp.K.J. kepada wartawan di ruang kerjanya di RSHS, Jalan Pasteur, Kamis (6/8/2009).
"Gangguan jiwa bisa dipicu hal sepele yang terjadi terus-menerus seperti tali sepatu yang sulit diikat, tidak selalu hal besar," ujar Teddy yang juga Kepala Bagian Psikiatri RSHS Bandung ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konflik terus menerus dengan pasangan itu lebih berat dibandingkan kehilangan pasangannya itu sendiri," jelasnya.
Untuk meminimalisir perasaan stres, cemas dan depresi yang timbul, Ahli Jiwa lainnya dr Natalingrum menyarankan agar setiap individu dapat memenej diri agar bebas dari stres.
"Stres manajemen penting, bisa dilakukan dengan teknik relaksasi, olahraga, pola hidup sehat dan menyelesaikan masalahnya," kata Natalingrum.
Selain itu dikatakan Natalingrum, masyarakat dapat memperkecil kemungkinan stres dengan mempersiapkan kemungkinan datangnya stres. "Misalnya mau ujian, kita siapkan diri dengan belajar," jelasnya.
Atau jika keadaan yang tidak bisa dikendalikan maka kondisi dalam diri sendiri yang harus disiapkan. "Seperti bencana tsunami yang tak direncanakan, maka manusia itu sendiri yang harus beradaptasi," ujar Natalingrum.
(tya/ern)










































