1.200 Prasasti di Indonesia Terancam Rusak

1.200 Prasasti di Indonesia Terancam Rusak

- detikNews
Kamis, 06 Agu 2009 16:44 WIB
1.200 Prasasti di Indonesia Terancam Rusak
Bandung - Ada lebih dari 1.200 prasasti yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Namun sekitar 50 persen di antaranya tidak terawat, dan kondisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun.

"Selama ini pemerintah masih minim perhatian untuk urusan-urusan seperti ini, ketika kami konfirmasi masalahnya masih terbentur pada pendanaan," tutur Titi Surti Nastiti, Peneliti Puslitbang Arkeologi Nasional  yang ditemui wartawan usai menyampaikan materi dalam Workshop Prasasti dan Peranannya Dalam Budaya Tulis Indonesia di Landmark Convention Hall Jl Braga Kamis (6/8/2009).

Titi menuturkan, minimnya perhatian pemerintah semakin diperparah dengan minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai peninggalan bersejarah tanah air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini yang membuat kondisi prasasti-prasasti di Indonesia menjadi semakin tak terawat, pemerintah tidak mengurus dan masyarakatnya tidak memiliki informasi yang jelas. Malah di Jawa Timur saya pernah menemukan ada warga yang mencuci diatas batu prasasti karena ketidaktahuannya," tutur Titi.

Lebih lanjut Titi menuturkan ada sejumlah pihak yang memanfaatkan kondisi ini. "Sejumlah pihak pengeruk keuntungan memanfaatkan kesempatan ini dengan membeli atau bahkan mencuri prasasti yang bagi sebagian masyarakat awam dianggap hanya batu biasa," tutur Titi.

Ketika dikonfirmasi apakah tindakan-tindakan tersebut sudah ada yang dibawa ke jalur hukum, Titi berpendapat bahwa hanya sebagian kecil yang sudah diproses.

"Inilah yang sulit, kebanyakan didalangi oleh pihak luar negeri. Makanya kami menjadi semakin sulit melakukan penelusuran dan pendataan," tutur Titi.

Kedepan, Titi berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi ini mengingat prasasti adalah potret perubahan zaman dari periode ke periode.

"Prasasti adalah potret budaya bangsa dari zaman ke zaman yang direpresentasikan lewat tulisan. Sudah selayaknya pemerintah menaruh perhatian lebih pada hal ini," ujar Titi.
(dip/lom)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini