"Selama ini pemerintah masih minim perhatian untuk urusan-urusan seperti ini, ketika kami konfirmasi masalahnya masih terbentur pada pendanaan," tutur Titi Surti Nastiti, Peneliti Puslitbang Arkeologi Nasional yang ditemui wartawan usai menyampaikan materi dalam Workshop Prasasti dan Peranannya Dalam Budaya Tulis Indonesia di Landmark Convention Hall Jl Braga Kamis (6/8/2009).
Titi menuturkan, minimnya perhatian pemerintah semakin diperparah dengan minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai peninggalan bersejarah tanah air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Titi menuturkan ada sejumlah pihak yang memanfaatkan kondisi ini. "Sejumlah pihak pengeruk keuntungan memanfaatkan kesempatan ini dengan membeli atau bahkan mencuri prasasti yang bagi sebagian masyarakat awam dianggap hanya batu biasa," tutur Titi.
Ketika dikonfirmasi apakah tindakan-tindakan tersebut sudah ada yang dibawa ke jalur hukum, Titi berpendapat bahwa hanya sebagian kecil yang sudah diproses.
"Inilah yang sulit, kebanyakan didalangi oleh pihak luar negeri. Makanya kami menjadi semakin sulit melakukan penelusuran dan pendataan," tutur Titi.
Kedepan, Titi berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi ini mengingat prasasti adalah potret perubahan zaman dari periode ke periode.
"Prasasti adalah potret budaya bangsa dari zaman ke zaman yang direpresentasikan lewat tulisan. Sudah selayaknya pemerintah menaruh perhatian lebih pada hal ini," ujar Titi.
(dip/lom)










































