BEM Bandung Raya: KPU=Komisi Pemalas Ulung

BEM Bandung Raya: KPU=Komisi Pemalas Ulung

Pradipta Nugrahanto - detikNews
Senin, 27 Jul 2009 11:09 WIB
BEM Bandung Raya: KPU=Komisi Pemalas Ulung
Bandung -

Sekitar 100 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bandung Raya menggelar unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Senin (27/7/2009). Sambil menutup mulut dengan lakban hitam, mereka kecewa dengan pelaksanaan Pilpres 2009. Selain itu, mereka tak setuju kemenangan mutlak SBY-Boediono.

Koordinator aksi Mei Susanto mengatakan Pilpres 2009 ini sangat mengecewakan dan dinilai tidak transparan. Para mahasiswa menilai Pilpres 2009 sama buruknya dengan pelaksanaan Pileg 2009. Salah satu contoh ketidakberesan KPU ialah permasalahan daftar pemilih tetap (DPT). Mereka pun menyebut KPU dengan istilah Komisi Pemalas Ulung.

"Calon satu dan tiga menyuarakan protes ke KPU Pusat lantaran ada dugaan jutaan pemilih ganda. Tapi KPU seolah tak mendengar, kami pun mengistilahkannya KPU dengan Komisi Pemalas Ulung," ujarnya disela-sela aksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mei menambahkan, BEM Bandung Raya merasa kecewa dengan capres dan cawapres yang bertarung pada Pilpres 2009 yang tidak menunjukkan kedewasaan dalam proses demokrasi.

"Setelah hasil diumumkan, mereka saling tuding di belakang. Tapi saat debat capres dan cawapres, mereka hanya senyam-senyum dan mendukung satu sama lainnya," jelas Mei.

Selain itu, lanjut dia, BEM Bandung Raya tak setuju dengan kemenangan mutlak SBY. Alasannya, hal tersebut bisa membuat pemerintah super power. Maka itu, para pedemo mengharapkan di parlemen SBY-Boediono nanti ada oposisi untuk mengimbangi kemenangan itu. "Biar ada cek dan balance, harusnya ada oposisi. Kita harapkan itu," jelasnya.

Para pedemo yang menggunakan jas almamater kampusnya masing-masing, sempat berusaha merangsek masuk ke dalam gerbang Gedung Sate. Namun aksi mereka mampu diredakan sekitar puluhan petugas kepolisian.

Dalam aksinya, pedemo menutup mulutnya dengan menggunkan lakban hitam sebagai simbol dibungkamnya hak bersuara. Mereka pun membagikan selebaran berupa keprihatinan demokrasi di Indonesia ke pengendara yang melintas.

(bbp/ern)


Berita Terkait