"Ya itu terjadi karena pengaruh media menayangkan berita tersebut secara berulang-ulang, sehingga anak-anak juga melihat dan karena masih anak-anak belum bisa berfikir matang, akhirnya mengikuti," kata Ketua Pokja Pengaduan dan Fasilitas Pelayanan KPAID Kota Bandung M Hariman Bahtiar kepada detikbandung saat ditemui di sela-sela acara Aksi Simpatik dalam rangka Hari Anak Nasional di tempat belanja BIP Bandung, Kamis (23/7/2009).
Hariman mengatakan kasus seperti ini mengingatkan dirinya pada kasus tayangan 'Smack Down' yang berimbas kepada anak-anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan keterangan Hariman, pihak KPAID sudah bekerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesia terkait pemberitaan terkait peristiwa bom mega kuningan.
"Kerjasamanya mengenai tayangan televisi yang sekiranya akan memberikan dampak buruk bagi anak-anak agar diatur jam tayangnya. Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari pihak stasiun televisi," jelasnya.
Namun menurut Hariman, orang tua menempati posisi pertama sebagai filter bagi anak-anaknya agar tidak terpengaruh oleh tayangan televisi.
PDF (12), bocah pelaku teror ancaman bom via telepon kepada polisi mengaku terinspirasi dari tayangan televisi yang menayangkan peristiwa bom mega kuningan. PDF ditangkap pihak kepolisian 9 jam sejak aksi teror ditujukan ke Hotel Sheraton, Selasa (21/7/2009). (avi/ahy)











































