Hal itu disampaikan Meneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali dalam sambutannya di pembukaan Cooperative Fair di Lapangan GOR Saparua, Kamis (23/7/2009). Dari data kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah tahun 2008, jumlah UKM di Jabar mencapai 99 persen dari total usaha. Namun Suryadharma tak menyebut angka pastinya.
"Saya yakin Jabar itu gudangnya orang pintar. Bagaimana tidak, semua perguruan tinggi top ada di Jabar. Beragam industri pun ada di Jabar dari petasan hingga bahan peledak, tapi sayang jumlah industri besar sangat kecil. Sebagian besar adalah industri kecil. Tentu ini suatu ketimpangan," tutur Suryadharma.
Lebih lanjut Suryadharma menuturkan, saat ini tak hanya UKM di Jabar, UKM di Indonesia masih terbentur masalah pendanaan. "Memang terdengar klasik, tapi memang kenyataanya setelah saya telusuri sumber masalahnya kenapa usaha kecil dan mengengah tak kunjung berkembang, ternyata masalahnya adalah dana," imbuhnya.
Suryadharma menambahkan problem pendanaan ini lebih disebabkan kurangnya keseriusan bank dalam memberdayakan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Periode 2008-2009 anggaran KUR itu ada Rp 34,45 trilliun. Jika sudah terpakai Rp 12,5 trilliun, masih ada sisa Rp 22,5 Trilliun untuk tahun 2009 ini. Tapi selama 6 bulan ini, dana yang dikucurkan untuk UKM baru mencapai Rp 2 trilliun saja. Ini jelas bank yang menangani kurang serius," tandasnya.
Bank-bank yang memiliki kewenangan untuk menangani KUR di Indonesia berjumlah 6 bank, yaitu BRI, BNI, Mandiri, Bank Syariah Mandiri dan BTN.
"Sejauh pengamatan saya, bank-bank itu sibuk bermain dengan bunga pinjaman saja. Bunga kecil tapi prosesnya lama. Padahal para pengusaha UKM itu sering tidak mempedulikan masalah bunga, yang penting kecepatan prosesnya. Berapapun bunganya mereka pasti bayar, namun karena tersandung birokrasi sehingga mereka cenderung beralih ke rentenir yang proses cairnya cepat," ujar Suryadharma. (dip/ern)











































