90 Persen Anak Telantar di Jabar Hasil Hubungan di Luar Nikah

90 Persen Anak Telantar di Jabar Hasil Hubungan di Luar Nikah

- detikNews
Selasa, 21 Jul 2009 15:29 WIB
90 Persen Anak Telantar di Jabar Hasil Hubungan di Luar Nikah
Bandung - Dari 349.533 anak telantar di Jabar, 90 persen diantaranya adalah hasil hubungan di luar nikah. Hanya 10 persen dari jumlah itu, yang berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomi.

Data tersebut disampaikan oleh S Roediono, Wakil Ketua Yayasan Pendidikan dan Asuhan Bunda (YPAB) yang ditemui detikbandung di Lembaga Perlindungan Anak Jl Karang Tinggal 33, Selasa (21/7/2009).

"Tentu ini kondisi yang memperihatinkan, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah kenyataan pahit yang harus diterima. Tinggal bagaimana kita mengurus nasib anak-anak yang tak berdosa itu," tutur Roediono.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Roediono menambahkan dari jumlah 90 persen itu, masih  dibagi lagi dalam dua kategori. "Ada yang terjadi karena 'kecelakaan' dalam berhubungan dan juga karena perkosaan," imbuhnya.

Meski begitu pihaknya masih bersyukur, lantaran sejak adanya UU No 54 Tahun 2002 tentang adopsi, banyak orang tua muda yang lebih memilih untuk menyerahkan anak hasil hubungan diluar nikah itu ke panti asuhan daripada menggugurkannya saat dalam kandungan.

"Setidaknya masih ada segi postifnya, sekarang kalau sudah telanjur hamil si ibu yang rata-rata masih muda dan bersekolah lebih memilih untuk memberikan anaknya ke panti asuhan ketimbang aborsi atau membuang anak," ujarnya.

Roediono bersama YPAB sebagai lembaga yang diakui pemerintah secara legal untuk melakukan adopsi, menilai adopsi jauh lebih baik daripada membuang anak.

"Setidaknya kami membantu ibu-ibu muda yang menjadi korban pelecehan seksual, atau mereka-mereka yang 'kecelakaan' agar tetap bisa beraktivitas normal tanpa khawatir terganggu oleh adanya anak," sambungnya.

Lebih lanjut Roediono berharap agar pemerintah tetap bisa memberikan izin pada anak sekolah yang hamil diluar nikah, untuk bisa menuntaskan sekolahnya.

"Mereka hanya korban, masa karena itu hak mengenyam pendidikannya dicabut. Kami mengupayakan agar mereka tetap bisa sekolah. Kemarin, kami baru saja menolong satu siswi yang hamil karena diperkosa menjelang UN 2009 dan akhirnya bisa lulus juga," ujarnya. (dip/ern)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini