Pendapat tersebut disampaikan oleh Dwi Sawung, perwakilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dalam Workshop Pendidikan Seni Budaya Untuk Perlawanan terhadap Korupsi, Perusakan Lingkungan dan Pelanggaran HAM di Student Centre ITB, Kamis (16/7/2009).
"Selama ini banyak pembangunan-pembangunan yang di Bandung dan Indonesia yang tidak berwawasan lingkungan. Sebutlah pembangunan pabrik-pabrik tekstil di bekas sawah. Itu sama saja dengan menyemai bibit penyakit. Hanya alibi si empunya perusahaan yang mengatakan ini membuka lapangan kerja," ujar Sawung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Sawung menuturkan tindakan perusakan lingkungan semacam itu efeknya akan langsung dirasakan oleh penghuni bumi. "Dari contoh tadi kita bisa melihat, alam dirusak efeknya akan langsung tunai. Tidak ada istilahnya alam memberi kredit, sekali dirusak maka dampaknya akan langsung ada," tuturnya.
Selain itu Sawung juga mencontohkan kasus perombakan lingkungan yang berdampak pada timbulnya bencana alam.
"Banyak daerah-daerah resapan air seperti Cicaheum dan Sukajadi yang disulap menjadi perumahan. Kini setiap kemarau, selalu saja kurang air. Ini sudah bukti kalau alam akan membayar tunai setiap ulah manusia yang tidak peduli alam," ujarnya berapi-api.
Sawung mengharapkan, pemerintah ke depan bisa menerapkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Salah satunya dengan tidak sembarangan memberikan izin alih fungsi lahan.
"Kebanyakan alih fungsi lahan di Bandung tidak berizin, sebutlah rencana alih fungsi Situ Lembang yang akan dijadikan resort, padahal di dekat sana ada tempat latihan tentara. Ini berarti pemerintah tidak beres, harusnya pemerintah tidak melulu membangun tapi juga memperhatikan lingkungan," pungkasnya. (dip/lom)










































