Pendapat itu diungkapkan oleh Direktur Keselamatan dan Teknik Sarana PT KA Persero Hermanto Dwiatmoko, yang ditemui wartawan di Kantor KA Daop 2 Bandung Jl. Stasiun Selatan No.1 dalam acara konferensi pers Sosialisasi Keselamatan Perkeretaapian, Selasa (14/7/2009).
"Data dua tahun terakhir mulai 2008 hingga 10 Juli 2009 faktor manusia adalah yang paling tinggi. Di tahun 2008 tercatat ada 33 persen kecelakaan atau 48 kasus. Sementara di 2009 hingga 10 Juli lalu telah terjadi 18 kasus kecelakaan akibat faktor manusia," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain itu, faktor eksternal yang menjadi penyebab kecelakaan diantaranya, bencana alam, gempa bumi, longsor dan banjir. Juga dikarenakan banyaknya bangunan liar disekitar rel yang menghalangi pandangan, masyarakat tidak disiplin menerobos palang lintasan, vandalisme seperti pencurian properti KA, dan pelemparan kaca kereta," sambung Hermanto.
Untuk menghindari lebih banyak kecelakaan akibat human error, pihak KA Persero akan melakukan sertifikasi SDM dibidang perkeretapian pada masinis dan petugas pengatur perjalanan KA di seluruh Daop di Indonesia.
"Prosesnya sudah dimulai dari bulan Juni, sertifikasi ini sangat penting guna meningkatkan keselamatan transportasi kereta api, utamanya meningkatkan kedisiplinan para petugas di lapangan," pungkas Hermanto.
"Faktor sarana umumnya disebabkan kerusakan pada as dan roda, kerusakan pada komponen bogi (rangkaian-red), pengereman yang tidak bekerja, kurangnya perawatan sarana, tidak memakai suku cadang standar," tutur Hermanto.
Untuk faktor prasarana sebagian besar disebabkan jalan rel tidak layak, jembatan KA yang kurang layak, sinyal dan telekomunikasi tidak bekerja dengan baik.
(dip/lom)











































