Bukan lagi pemandangan yang asing, di setiap titik strategis kawasan wisata Bandung, gelembung-gelembung sabun nampak menghiasi udara jalanan kota Bandung.
Gelembung sabun memang suatu yang sederhana. Tapi akhirnya seperti menjadi ciri khas dari Kota Bandung. Lihatlah di Jalan Setiabudi, Jalan Martadinata, Jalan Dago, atau di Jalan Cimandiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bermula dari orang Tasikmalaya bernama Sandi. Menurut Rudi, Sandi awalnya berjualan di Ciwidey terus ke Jalan Kopo, baru ke Jalan Setiabudhi. Rudi sendiri baru bergabung dengan Sandi tahun 2003. Dari situlah satu per satu orang Tasik pun diajak untuk bergabung dan berdagang gelembung sabun.
"Sekarang sekitar 15 orang yang ikut berjualan," ujar Rudi. Para pedagang tersebut berkumpul di satu tempat yang sama. Mereka bersama-sama membuat sendiri gelembung sabun.
Menurut Rudi, cairan sabun tersebut dibuat dari bibit busa dan kembang sepatu untuk mengentalkan cairan. Kemudian ditambahkan gincu berwarna merah agar cairan lebih menarik.
Dikemas dalam botol-botol air mineral bekas berukuran 500 mililiter dan satu liter. Dijual plus alat untuk menggelembungkan cairan yang di buat dari kawat yang dibentuk menjadi bunga, bentuk hati dan bulatan kecil. Kawat tersebut dililit dengan benang wol warna merah muda.
"Pembuat alatnya juga ada divisi khusus," ujar Rudi.
Menurut Rudi dalam satu hari mereka bisa membuat sampai 400 botol. Botol ukuran kecil sebanyak 300 buah sedangkan botol ukuran besar hanya 100 buah karena peminatnya lebih seedikit.
Setiap pagi para penjual menyebar ke beberapa tempat wisata di Kota Bandung. Satu botol cairan sabun berukuran satu liter dijual Rp 25 ribu sedangkan botol berukuran setengah liter dijual Rp 15 ribu. Asal bisa tawar menawar harga, konsumen bisa mendapatkan harga yang lebih murah.
(ema/ern)











































