Pengelola Kinanti Wedding Planner, Cussi D Lesmana (33), mengatakan modalnya hanya keinginan untuk menyenangkan orang lain. Cussi mengawali bisnisnya sejak lima tahun lalu dengan seorang partner.
"Bisnis jasa ini minim modal karena menjalankan bisnis dengan memutarkan uang klien," tutur Cussi saat ditemui di standnya di pameran pernikahan tradisional Lintas Warna di Pusdai, Jalan Diponegoro, belum lama ini.
Ditambahkan ibu beranak satu ini, tentu saja modal lainnya harus memiliki tekad dan kejujuran. "Tipsnya harus membuat nyaman klien," ujar mantan sales marketing ini.
Cussi menambahkan, jika mendapatkan keuntungan kecil di awal, janganlah berkecil hati. Sebab jika dilakukan secara profesional, klien baru akan berdatangan. Rupanya cara itu terbukti. Hingga kini, dalam satu bulan rata-rata Cussi bisa mendapatkan klien sebanyak delapan.
"Rata-rata klien yang didapatkan adalah dengan budget Rp 150 juta," ujar Cussi.
Lain halnya dengan Pipit Nurindah (38), pemilik Sarahfie Wedding Organizer. Dirinya merintis bisnisnya dari hobi. Pipit memulai usaha sejak 1997 sebagai penata rias.
"Harus hobi dulu jangan langsung ingin meraup keuntungan," tutur Pipit. Ia mengaku memulai bisnisnya dari nol. Dan kini sanggup bertahan hingga belasan tahun.
"Kalau tidak karena hobi maka tidak akan jalan," ujarnya. Yang penting, sambung Pipit, adalah memberikan kepuasan pada konsumen. Jika konsumen sudah puas maka jerih payah yang sudah dilakukan pun akan terhapus.
Kendala yang dihadapi Pipit adalah menumbuhkan kepercayaan pada klien. Apalagi dia memulai bisnisnya sejak masih muda. Namun ketika ditekuni secara serius dan profesional maka kepercayaan itu akan terus ada.
Pipit pun mengaku sekarang tidak harus berpromosi dengan gencar karena nama WO nya sudah banyak diketahui publik.
Sama halnya dengan Cussi, dalam satu bulan Pipit bisa mendapatkan delapan klien. Belum lagi klien-klien yang hanya memesan rias pengantin atau katering saja. Selain di Bandung, Pipit juga sering mendapatkan klien dari Subang, Tasikmalaya dan yang terjauh Purwekerto.
Menurut Pipit bisnis WO sejak tahun 2004 lalu memang marak. Peluang dalam bisnis ini memang cukup besar.
(ema/bbp)











































