Kemasan Apik, Generasi Muda Mulai Melirik

Kemasan Apik, Generasi Muda Mulai Melirik

- detikNews
Jumat, 26 Jun 2009 18:15 WIB
Kemasan Apik, Generasi Muda Mulai Melirik
Bandung - Ketika sebuah produk dikemas secara menarik, banyak orang mulai menaruh minat untuk mengetahui lebih jauh mengenai produk tersebut. Begitu juga dengan produk makanan tradisional, jika dikemas lebih menarik siapapun akan melirik.

Pendapat itu diungkapkan oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. "Jabar begitu terkenal dengan makanan tradisionalnya. Tapi karena sejak dulu kemasannya selalu apa adanya jadinya peminatnya jarang. Apalagi generasi muda," tutur Heryawan usai pembukaan Food Ethnic 2009, Jumat (26/6/2009) di Cihampelas Walk.

Ahmad mencontohkan produk kopi asal Jabar. "Kita begitu kaya akan kopi, tapi begitu dijual di warung harganya hanya Rp 2.000. Beda dengan kopi Starbucks yang harganya bisa 10 sampai 20 kali lipat. Dari mana kopinya? Itu kopi produksi kita juga, hanya kemasannya jauh lebih baik," tutur Ahmad.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka, lanjut Heryawan, untuk mengubah pandangan masyarakat tentang makanan tradisional, diadakanlah Food Ethnic 2009.

Pada festival makanan kali ini yang mengusung tema umbi dan coklat, kreasi makanan tradisional dimodifikasi menjadi makanan modern. Dengan kemasan baru ini, terbukti cukup banyak anak muda Bandung yang tertarik datang dan mencicipi makanan-makanan yang disediakan.

Salah satunya adalah Fitri Anggraeni (25), mahasiswi perguruan tinggi swasta di Bandung ini mengaku senang dengan adanya festival makanan tradisional ini. "Wah ini menyenangkan sekali, makanan tradisional biasanya kan kesannya kampung banget. Kalo dibuat seperti ini jadi lebih menari dan memikat untuk dinikmati," tutur Fitri.

Pendapat senada juga diutarakan oleh Enik Setyawati (22), mahasiswi ini menuturkan bahwa makanan tradisional Jabar jika dikemas lebih menarik bisa menjangkau pasar anak muda.

"Selama ini kita taunya merek-merek impor atau makanan modern lainnya. Padahal makanan-makanan seperti itu, selain diimpor juga kandungan gizinya sangat rendah. Beda dengan makanan tradisional seperti oncom atau ubi, asal kemasannya menarik saya yakin anak-anak muda juga bakal tertarik," tutur Enik.

Ternyata selain menikmati hidangan, ada juga anak muda Bandung yang sudah berjualan makanan tradisional dengan versi yang lebih modern. Seperti Nurul Defani (22). Ia dan teman-teman kampusnya membuka stand makanan yang bahan dasarnya ubi, tape dan oncom.

"Kita jual nugget oncom, kurma tape dan muffin ubi. Coba, kalau dilihat tidak seperti makanan murahan kan? Selain itu, harganya juga terjangkau dan lebih tahan lama tanpa perlu bahan pengawet," seloroh Nurul.

(dip/ema)


Berita Terkait