Menurut Tetti Hodijah, seorang pemandu Museum Sri Baduga, hari-hari menjelang liburan sekolah, pengunjung bisa meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. "Jika di hari biasa pengunjung per hari hanya 100 orang, pada musim liburan mencapai 200 hingga 300 orang," kata Tetty yang ditemui di Museum Sri Baduga, Jalan BKR. Bahkan menurutnya di puncak musim liburan, pengunjung bisa sampai 1.000 orang.
Tetty menambahkan mayoritas pengunjung Museum Sri Baduga adalah anak sekolah. "Jumlah siswa sekolah yang berkunjung 60 persen untuk siswa SD, SMP dan SMA. Sisanya mahasiswa, masyarakat umum, peneliti, dan wisatawan asing," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetty mengimbau kepada seklah yang akan melakukan studi tur ke Sri Baduga agar menghubungi pihak museum seminggu sebelumnya. "Kalau bisa pihak sekolah mengirim surat seminggu sebelum kunjungan. Jadi kami bisa mengatur jadwal dan menyiapkan pemandu lebih banyak jika pengunjungnya juga banyak," tutur Tetty.
Dari sejumlah objek di Museum Sri Baduga, Tetty menyebut Gua Pawon menjadi favorit banyak pengunjung. Gua Pawon menggambarkan kehidupan manusia purba Bandung dimana terdapat replika manusia purba di dalamnya.
Seperti Irna Nurjanah (11) siswi kelas 1 SMP Al Hikmah Garut yang mengaku senang dapat berkunjung bersama sekolahnya ke museum. "Museumnya bagus, bisa menambah ilmu. Saya paling suka lihat gua pawon," ujarnya. Berbeda lagi dengan Resi Marlina (12), siswi Kelas 2 dari sekolah yang sama. "Senang berkunjung ke sini bisa lihat replikan bangunan kelas jaman Belanda, selama ini hanya dilihat dari buku pelajaran," katanya.
Menurut Undang, Guru Kesenian SMP Al Hikmah Garut, siswa-siswinya memang begitu antusias ketika diajak ke Museum Sri Baduga. "Museum Sri Baduga bagus, karena menyimpan sejarah masyarakat sunda, makanya kita sengaja mengajak anak-anak ke sini supaya pemahaman mengenai budaya sunda tidak hanya sebatas teori tapi juga visual, kan disini bisa dilihat," terangnya.
(tya/ern)










































