Hal itu disampaikan oleh Endo Suanda, Direktur Lembaga Pendidikan Seni Nusantara ketika ditemui disela-sela konferensi internasional Fine Art dan Design di Kampus ITB, Jumat (19/6/2009).
"Orang Indonesia lebih concern untuk membuat pagelaran seni tradisi, itupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Yang paling miskin adalah kesadaran untuk mengarsipkan budaya bangsa," tutur Endo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu Endo juga mengatakan kebijakan pemerintah terhadap kebudayaan sudah cukup baik. "Sekarang sudah ada peraturan yang mengharuskan setiap perusahaan yang menerbitkan buku, video atau produk audio yang berkaitan dengan budaya untuk menyetor ke Perpustakaan Nasional sebanyak dua kopi per cetakan, namun kenyataanya sumbangan yang harusnya jadi informasi itu hanya menumpuk di gudang," tukas Endo.
Acara yang merupakan rangkaian Dies Emas ITB ini, dihadiri oleh sejumlah pemakalah nasional dan internasional. Diantaranya Biranul Anas (Dekan FSRD ITB), M David Teh (Ilustrator asal Thailand) dan Max Kisman (Animator dan Dosen Gerrit Rietveld Academy Amsterdam).
(dip/tya)










































