Sang mama lah yaitu Ratna (45) yang memperkenalkan Mia pada ahlinya airbrush Brian Aditiawarman. Brian yang kebetulan juga membuka kursus privat airbrush ini menyambut baik keinginan Mia untuk belajar.Mia yang senang lukis ini memang awalnya diberikan pilihan oleh ibunya untuk memilih hobi di luar sekolah yang ingin dia tekuni. Akhirnya airbrush lah yang jadi pilihan Mia.
Di sela waktu belajarnya di kelas 1 SMP Aloysius ini sedikit demi sedikit Mia mulai mempelajar airbrush. Meski sudah menyenangi lukis tapi belajar airbrush juga tidak mudah.
"Awalnya pegal-pegal karena harus megang pena airbrush," ujar Mia saat ditemui di studio Airbrush milik Brian Jalan Kurdi Selatan I no 10. Tapi tak perlu menunggu waktu lama. Setelah terbiasa menggunakan pena dan belajar menyemprotkan warna Mia pun mulai mahir.
Mia mengaplikasikan airbrush pada barang-barang yang dipakainya. Misalnya tas, celana, syal, atau pada kotak-kotak kayu yang dibuat oleh ibunya sendiri. Tak jarang ada temannya yang meras terpikat dengan hasil karya Mia.
"Lumayan bisa bikin airbrush untuk dipakai sendiri," ujarnya. Objek favorit Mia tentu saja nggak jauh dari teman-teman seusianya yaitu tokoh kartun.
Tapi diakui Mia dia belum menggunakan imajinasinya dalam menggambar karena masih melihat model objek. "Sekarang belum pakai imajinasi sendiri masih lihat gambar objek," ujar Mia. Mia pun mengaku masih kesulitan dalam membuat gradasi agar terlihat lebih halus.
Mia sendiri belum memastikan sampai kapan akan belajar airbrush karena proses belajar terus berkembang. Saat ditanya apakah pelukis menjadi cita-cita Mia, mia menggelengkan kepala. "Tidak tahu," ujarnya.
Ratna, ibu Mia menambahkan, diarahkannya Mia untuk menekuni airbrush bukan untuk membuat Mia menjadi pelukis. Dia hanya ingin Mia memiliki bekal untuk masa depannya nanti.
"Terserah Mia mau jadi apa tapi yang penting dia punya keterampilan untuk dewasanya nanti," ujar Ratna.
(ema/ahy)











































