"Test Potensi Akademik yang diintegrasikan kedalam SNMPTN seharusnya bisa menyeleksi secara lebih ketat siswa mana yang memang cocok untuk kuliah di jurusan yang dipilihnya, sehingga tingkat DO mahasiswa ITB dan seluruh PTN di Indonesia bisa lebih ditekan," ujar Adang Surahman, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB yang ditemui usai Sosialisasi SNMPTN 2009 di Rektorat ITB, jalan Tamansari, senin (1/6/2009).
Dikatakan Adang, tingginya tingkat Drop Out ini dikarenakan banyaknya mahasiswa yang masuk ke ITB secara 'untung-untungan' lantaran menguasai salah satu bidang studi dan kebetulan memilih jurusan yang passing gradenya memenuhi syarat namun sebenarnya siswa tersebut tidak cocok kuliah dijurusan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari keterangan Adang, jumlah mahasiswa ITB yang terkena DO tiap tahunnya mencapai 5 persen. Dua persen berasal dari mahasiswa yang masuk melalui jalur SNMPTN dan 3 persen dari jalur Ujian Masuk.
Jika dilihat, tingkat DO mahasiswa yang masuk dari jalur UM memang lebih tinggi dari jalur SNMPTN, namun dijelaskan Adang, tingkat DO mahasiswa yang masuk lewat jalur UM cenderung terus menurun setiap tahunnya, sedangkan yang masuk melalui jalur SNMPTN cenderung tetap.
"Rata-rata lama studi Mahasiswa di ITB berkisar 4,5 sampai 5 tahun, untuk mahasiswa yang masuk melalui jalur UM tingkatan 3 persen itu akan terus menurun dari tahun pertama hingga tahun ke-empat namun tidak demikian halnya dengan mahasiswa yang masuk lewat jalur SNMPTN," tuturnya lagi.
(dip/ern)











































