"Kalau bisa diistilahkan, mereka itu ngap-ngapan, (ngos-ngosan), mereka dipaksa mencari pasar yang lain selain buku pelajaran," ujar Sekjen IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), Wanti Syaefullah, usai acara Grand Launching Salam Book House, Jalan Pasirwangi, Minggu (31/5/2009).
Dari sekitar 8 ribu anggota IKAPI, 30 persen diantaranya adalah penerbit buku pelajaran. Meski belum ada yang gulung tikar, mereka kini dalam kondisi terancam. "Dengan pembelian copy rigt, penerbit hanya dibayar sekali saja, waktu pertama buku mereka dibeli setelahnya tidak dapat apa-apa lagi. Padahal biasanya mereka dapat royalti tiap tahun," jelas Wanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanti mengatakan pemerintah perlu meluruskan mekanisme pasar buku pelajaran ini agar tidak merugikan sebagian kalangan penerbit. "Jangan buku dari swasta dilarang," kata Wanti.
(tya/ern)











































