Pertanian Hulu dan Hilir di Jabar Tak Seimbang

Pertanian Hulu dan Hilir di Jabar Tak Seimbang

- detikNews
Selasa, 26 Mei 2009 15:08 WIB
Pertanian Hulu dan Hilir di Jabar Tak Seimbang
Bandung - Kondisi pertanian di Jabar terkendala dengan ketidakseimbangan bisnis pertanian di hulu dan hilir. Hulu yaitu petani, dan hilir adalah pedagang. Kondisi tersebut membuat produk pertanian di Jabar kurang diminati, malah banyak tergantung pada produk pertanian impor.

"Masyarakat sebaiknya tidak tergantung pada produk pangan impor dan menjadikan produk dalam negeri sebagai sumber bahan pangan di Indonesia," kata Lex Laksamana, Sekda Jabar dalam pembukaan Agrifest 2009 di Graha Manggala Siliwangi Jalan Aceh, Selasa (26/5/2009).

Menurut Lex harus ada simbiosis mutualisme antara petani, pedagang dan pembeli agar ada keseimbangan dalam bisnis pertanian di Jabar. "Jika simbosis itu terjadi maka tingkat gizi publik di Jabar akan mengalami peningkatan yang signifikan," kata Lex.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi menurut Lex, teknologi pangan di Jabar sudah cukup baik jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. "Seperti adanya sistem aeroponik, dimana bisa meningkatkan produksi bibit kentang secara signifikan jauh lebih tinggi dari pembibitan kentang secara konvensional," jelas Lex.

Adanya teknologi semacam ini menurut Lex juga bisa meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat, karena bibit dari teknologi ini adalah bibit yang bebas virus. Hasilnya, tentu jauh lebih banyak dari teknologi konvensional, sehingga kebutuhan pangan daerah bisa tertutupi.

Menurut dia, Provinsi Jabar memiliki potensi dalam bidang komoditas pangan. Potensi tersebut bisa menjadikan Provinsi Jabar sebagai sumber ketahanan pangan di Indonesia.

"Jabar memiliki komoditas pangan unggulan seperti padi, mangga, manggis, ayam dan sapi. Dengan potensi yang banyak seperti itu, seharusnya Jabar bisa menjadi sumber ketahanan pangan nasional," ujar Lex.

Bahkan Lex juga menuturkan Jabar memiliki potensi besar untuk jadi pemain utama di bidang pertanian dan bisnis pertanian di Indonesia maupun di dunia internasional.
(tya/ern)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini