Patung-patung untuk Mengenang Asia

Patung-patung untuk Mengenang Asia

- detikNews
Minggu, 17 Mei 2009 10:12 WIB
Patung-patung untuk Mengenang Asia
Bandung - ‘Kakek saya adalah mantan tentara Jepang. Tetapi itu bukan keinginannya melainkan karena dipaksa. Waktu saya masih kecil, suka ikut tidur bersamanya, dan kadang ia berteriak keras pada malam hari. Esok harinya saya bertanya mengapa dan dia bilang seolah-olah dia di dalam perang’.

Petikan prolog yang ditulis Midori Hirata ini rasanya cukup untuk memahami alasan seorang Midori untuk memulai sebuah proyek yang disebutnya ‘Exchange Project’. Proyek yang didasarkan atas keinginan untuk berbagi sejarah dan memori dengan orang –orang yang pernah terlibat, juga terluka oleh Jepang semasa perang dunia II.

Dimulai dari Filipina tahun 2006. Midori menukarkan 1.000 patung ‘orang’ pada setiap pengunjung pameran tunggalnya di Quezon dan berhasil melakukan 900 penukaran. Tersisa 100 patung, satu tahun kemudian Midori melanjutkan proyeknya dan menghabiskan genap seribu patungnya di wilayah Kibungan dan Baguio.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selanjutnya Midori menemui sejumlah tentara PETA di Blitar dan membagikan 30 patung. Oktober 2008, dia berkeliling ke desa Peliatan Bali dan sekitarnya untuk melakukan hal yag sama.

Midori mencoba membuka suara mereka untuk berbagi cerita dan pengalaman. Pengalaman-pengalaman tentang luka, kesakitan juga memori-memori yang dibangkitkan tentang perang.

Sebagai orang Jepang, Midori yang tinggal cukup lama di Bali dan Jogyakarta ini makin merasa keterasingaan sebagai orang Jepang. Satu-satunya negara Asia yang belum pernah dijajah tapi sebaliknya meninggalkan bekas di negara Asia lainnya.

Selain berbagi cerita, Midori menukar patungnya dengan benda yang dimiliki oleh setiap orang yang dia temui. Benda itu bisa berupa makanan, pasta gigi, hiasan, keramik, jam, juga benda-benda lainnya.

Setiap benda termasuk pengalaman ‘suara’ yang didapatkannya secara detil dia suguhkan dalam pameran ‘Memory of Asia’ di Selasar Sunaryo Art Space, 8-23 Mei 2009. Ratusan benda yang ditata, deretan potret, adalah hasil penggalian dari Exchange Project’nya.

Setiap detilnya sepertinya cukup untuk membuat terlibat dalam setiap perjalanan yang dilakukan Midori. Seolah ikut tenggelam dalam memori yang belum pernah tersentuh secara nyata. Ketika Midori membagi pengalaman secara langsung dengan mereka ‘korban-korban perang’ maka chemistrynya pun menyebar pada setiap benda yang dipamerkan. Menyelami setiap kisah melalui sorot mata orang dalam deretan potret yang terpajang.

Midori kini masih melanjutkan Exchange Projectnya. Kali ini menguak negara kelahirannya, Jepang. Upaya ‘berbagi’ nya di Jepang belum tuntas. Terlebih diakui Midori untuk membuka memori di Jepang malah lebih sulit dibandingkan di Filipina atau Indonesia. (ema/ern)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini