Pernyataan tersebut dikatakan oleh Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung Rizal Chaidir saat menggelar jumpa pers terkait temuan pasien yang diduga terjangkit virus Flu Babi, di Ruang Sidang RSHS Bandung, Selasa (12/5/2009).
"Walaupun persedian sekarang mencukupi untuk 2-3 bulan ke depan, kita akan tambah persediaan Tamiflu dengan adanya suspect ini," kata Rizal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah upayakan ke Dinkes Jabar dan juga Depkes, kita berharap dari keduanyan bisa menyanggupi ajuan penambahan itu," katanya.
Asupan Tamiflu sendiri, jelas Rizal, diberikan dua kali dalam sehari kepada pasien yang diduga terjangkit H1N1 dengan dosis 75 miligram per asupan. Tamiflu akan diberikan selama tujuh hari selama masuk ruang isolasi Flamboyan.
Selain pemberian Tamiflu pada pasien ES (39), antisipasi terjangkitnya virus H1N1 adalah dengan menjaga jarak komunikasi dengan suspect.
"Radius 1 meter dokter yang menangani sudah tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan pasien," kata Rizal yang menambahkan penanganan lebih diperketat dengan cara berkoordinasi di ruang transit dengan melengkapi atribut penanganan.
"Lebih protektif daripada penanganan flu burung, karena kemungkinan terjangkit dengan menggunakan kontak langsung dengan pasien lebih tinggi," terangnya.
Senin (11/5/2009), RSHS Bandung menerima pasien yang diduga terjangkit virus H5N1. Dari hasil pemeriksaan tim dokter kesehatan pelabuhan yang bertempat di Bandara Husein Sastranegara, pasien ES (39) memiliki gejala menyerupai orang yang terjangkit flu babi, dengan panas lebih dari 38 derajat disertai sakit tenggorokan. (ahy/ern)










































