Peryataan tersebut dikatakan arief seusai menghadiri seminar Hari Pendidikan Nasional di Kampus Universitas Pemdidikan Indonesia (UPI), Jalan Setiabudi, Kamis (7/5/2009).
Menurutnya, standar kelulusan yang saat ini dipakai tidak dapat digunakan di Indonesia secara menyeluruh karena adanya perbedaan kekuatan pendidikan di masing-masing daerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengertian standar mutlak menurut Arief adalah menstandarkan seluruh Indonesia dengan satu nilai minimal kelulusan, sedangkan standar norma memperhitungkan dan mempertimbangkan kekuatan daerah masing-masing. Sehingga nantinya Dinas Pendidikan di masing-masing daerah mengeluarkan nilai standar rata-rata daerahnya.
"Pendidikan tidak hanya harus berkualitas, tapi juga harus taat pada azas keadilan," ujar Arif.
Arif mencontohkan, untuk mendapatkan gelar sarjana di satu universitas akan berbeda dengan univertas lainnya karena perbedaan pengajaran. "Untuk mendapat gelar S1 di UPI akan beda dengan UNJ, kan dosennya juga beda," ujar Arief.
Terkait dengan akan diberlakukannya UN sebagai acuan untuk masuk PTN, Arief menilai hal tersebut sulit untuk dilakukan. "Secara konsep saja, ujian dan seleksi berbeda. Seperti ITB yang memerlukan standar tersendiri sehingga membuat seleksi," ujar Arief.
Arief mengatakan, pendidikan bukanlah pencetakan manusia secara massal tapi untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia sehingga bisa jadi dirinya sendiri. Dijadikannya UN sebagai acuan masuk PTN sebagai bentuk penghematan menurut Arief adalah sebuah kekeliruan.
"Hemat tapi teorinya salah bagaimana?" ujar Arief.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(tya/ahy)











































