"Aneh, kan kemarin disuruh pulang, kenapa disuruh balik lagi," kata orang tua dari Fadlan Maulana Wahid dan Fadli Maulana Fani, Rani Agustin (22) saat ditemui wartawan di kediamannya di Sukarajin II No 16, Gang Sastrodiharjo V, RT 8 RW 15 Kelurahan Cikutra Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Senin (13/4/2009).
Menurut Rani, kepulangan dirinya dan kedua bayinya, merupakan saran dari dokter di RSHS. "Dokternya bilang katanya perawatan di rumah sakit sama di rumah sama aja, jadi mending dirawat di rumah saja," jelas Rani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayah dari bayi kembar siam, Didi (28) mengatakan saat akan meninggalkan RS dirinya diminta menandatangani form pernyataan yang isinya menyatakan keluarga menginginkan kepulangan.
Didi membenarkan keinginan pulang adalah inisiatif dirinya karena melihat kondisi bayi yang stabil. Adapun kalimat pulang paksa diartikan Didi karena RS meminta waktu seminggu lagi agar Rani dapat memasang selang dengan benar.
"Tapi kan liat susternya masang juga udah bisa," kata Didi yang menjelaskan pulang paksa bukan berarti keluarga menolak perawatan bayi lebih lama.
Saat pulang, Rani tak dititipi pesan bahwa jika ada sesuatu terjadi pada bayi untuk segera menghubungi pihak RS. "Ya pulang aja, nggak dibilangin apa-apa," ujar Rani.
Namun 2 hari setelah pulang dari RS, minggu (12/4/2008) Rani mengaku dihubungi RSHS yang mengatakan bahwa RS siap membantu. "Katanya kalau mau kontrol ke sini aja," ujar Rani menirukan ucapan seorang dokter yang menghubunginya.
"Mungkin baru telepon gitu karena sudah ada berita yah," kata Didi.
Di tempat berbeda, Dirut RSHS Cissy R. S. Prawira menyatakan pihaknya bersedia untuk merawat Fadlan dan Fadlin asal keluarga bersikap kooperatif.
"Jangan menolak tindakan yang diberikan oleh dokter," tegas Cissy. (ahy/ern)











































