Ditemui di kediamannya, Jalan Setrasari Kulon Raya, Jumat (3/4/2009), Angi (35) mengaku pagi ini tak melihat ulat di sekitar rumahnya, yang biasa menempel di dinding dan bergantung di tanaman miliknya.
"Saya sudah cek, tak ada ada lagi ulat-ulat yang ada di tanaman saya. Saya bersyukur sekali," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angi mengatakan meski pasca penyemprotan rumahnya menjadi bau dan pengap, dirinya tak masalah. "Tak apa-apa, yang penting ulatnya hilang. Mudah-mudahan tak terjadi lagi," kata Angi.
Dia mengaku petugas Distan telah memberikan carbofuran, insektisida yang ditaburkan ke tanah untuk membasmi pupa yang biasanya berada di dalam tanah.
Angi dan warga lainnya dalam sepekan terakhir ini disibukkan dengan serangan ulat bulu yang mengerubuni rumah mereka. Meski sudah disapu dan disemprot pembasmi hama, ulat yang jumlahnya hampir ribuan itu tetap ada. Ulat bulu itu menempel di dinding rumah bahkan hingga kamar tidur. Bahkan keset milik Angi yang warnanya cokelat berubah menjadi hitam pekat, gara-gara ulat menempel di keset.
Akhirnya diketahui jika sumber ulat itu berasal dari lahan kosong yang berada di perumahan tersebut, tepat di samping kediaman Angi. Pohon dan rumput liar di lahan kosong itu pun dibabat habis. Lalu Kamis (2/4/2009), petugas Dinas Pertanian menyemprot rumah warga dengan pestisida dan menaburkan carbofuran.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ern/ern)










































