Sungkan, warga RT 02/RW 07 Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Bandung itu terlihat memperhatikan reruntuhan Pemandian Cihampelas dan heran dengan nasib bangunan itu.
"Kolam renang ini ada kenangannya buat saya. Saya ingat waktu kecil bapak saya gendong saya ke sini," ucapnya lirih sambil menunjuk pemandian umum yang telah berdiri sejak 1902 itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sungkana ingat bagaimana dulu para pemuda setempat mendapatkan tambahan uang saku dengan menjadi juru parkir. Dia juga menunjukkan bedeng, tempat ganti pakaian, dan beberapa tempat lain yang kini sudah tinggal puing.
Ia sempat kesal dengan pembuatan benteng yang menghalangi akses masuk kendaran di sekitar pemandian Cihampelas. "Enam bulan lalu dibikin portal. Itu
yang bikin warga protes," keluhnya. Menurutnya, pendirian portal menyulitkan akses masuk kendaraan nanti.
Wawan (42), warga RT 08/RW 05 Kelurahan Cihampelas, Kecamatan Coblong turut sedih atas minimnya turut campur pemerintah untuk masalah ini. "Ini kan bangunan
tua, kenapa pemerintah diam aja? Pak Dada juga belum turun tangan," ujarnya.
Laki-laki yang telah bekerja di ITB selama dua puluh tahun itu membandingkan ITB dengan Pemandian Cihampelas. Menurutnya, sejak berdiri ITB tidak pernah
meninggalkan ciri khasnya seperti bentuk gerbangnya. Makanya Wawan berharap supaya pembangunan pemandian Cihampelas jangan meninggalkan ciri khasnya.
Melihat hal ini, warga Bandung tinggal menyimak apakah pemerintah akan menepati janji untuk melestarikan bangunan cagar budaya. Seperti kata Sungkana, "Harapan saya agar tempat ini ga jadi dibangun, lebih baik diperbaki."
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(rks/rks)










































