"Rata-rata wisatawan ini makan di luar. Mereka lebih cari keunikan yang ada di Bandung, Makanya restoran-restoran hotel selalu kosong walau tingkat hunian penuh," kata Eddy kepada detikbandung, Minggu (22/3/2009), ketika disinggung mengenai merebaknya hotel-hotel moderen yang ada di Bandung.
Meski hotel-hotel mensiasati dengan menu tradisional, imbuh Eddy, wisatawan tetap mencari pengalaman menarik dan unik yang ada di Bandung. "Lihat saja di depan Gedung Sate, selalu penuh kalau malam Minggu oleh wisatawan," Eddy mencontohkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PHRI sendiri telah beberapa kali mengajukan ke pemerintah Kota Bandung terkait pengembangan hotel-hotel melati yang ada di Bandung untuk meningkatkatkan pelayanannya demi mempertahankan keberadaan hotel melati.
"Sampai saat ini belum ada tanggapan dari Pemkot," katanya.
Sebelumnya diberitakan, berkembangnya hotel-hotel di Bandung akan jadi ancaman untuk keberlangsungan hotel kecil di Bandung. PHRI menilai penambahan kamar hotel hanya menjawab permasalahan keterbatasan kamar untuk wisatawan di waktu libur panjang saja. Sementara di hari biasa hotel-hotel tidak mampu mencapai target huniannya.
"Di satu sisi kita bangga Bandung jadi tujuan wisata, untuk permasalahan satu ini harus dipikirkan dari segala aspek dampak ke depannya apa, jadi tidak hanya satu sisi cara penyelesaiannya," pungkas Eddy.
Pembangunan hotel di Kota Bandung saat ini tengah menjamur, tak ayal bangunan tua yang memiliki keunikan tersendiri harus menjadi korban demi pembangunan hotel. Salah satunya adalah bangunan tua di Jalan Braga 67, Bandung.
Bangunan tua tersebut diruntuhkan dan rencananya akan dibangun Hotel Gino Feruci yang sama kepemilikannya dengan Hotel Henry Palace di Ranca Bentang, Ciumbuleuit, Bandung.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(ahy/ahy)










































