"Jangan bergerak masing-masing, biayanya tentu juga semakin besar," kata Rhenald di sela-sela Seminar 'Strategi Mengelola peluang & Ancaman Bisnis Industri Budaya & Wisata, di Saung Angklung Udjo, Jalan Padasuka, Sabtu (21/3/09).
Lebih lanjut, Rhenald mengatakan seharusnya di Indonesia dikembangkan sistem cluster, dimana semua pihak saling topang-menopang sehingga industri wisata di Indonesia tidak 'sendirian'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rhenald, di California Wine Cluster semua saling mendukung. Di sana lahan anggur dikerjakan oleh petani, lalu ada universitas yang mahasiswanya meneliti tentang hama anggur, kemudian didirikan pabrik untuk memproduksi minuman anggur sampai pembotolan dan pembuatan label.
Tak hanya sampai disitu, ada juga pengolahan makanan terkait dengan anggur, majalah tentang anggur sampai industri wisata juga didirikan disana.
"Jadi semuanya saling topang-menopang dan berdekatan dengan kerjasama yang baik, sehingga biaya pun bisa dipangkas," kata Rhenald.
Di Indonesia sendiri menurut Rhenald untuk mendukung sistem cluster, Indonesia juga harus menciptakan spesialis-spesialis dalam dunia wisata. "Harus ada spesialis misalnya untuk wisata sungai atau wisata kuliner, kemudian jumlahnya banyak serta beragam," ujar Rhenald.
Rhenald pun menambahkan, pemerintah daerah seharusnya lebih memperhatikan kawasan wisatanya agar lebih berkualitas dan aman untuk dikunjungi.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(ema/ema)










































