"Di mana-mana angkutan massal atau biasa saya sebut SAUM, kepanjangan dari sistem angkutan umum massal, enggak bisa untung. Jadi kalaupun menggandeng swasta, pasti investor pun mikir panjang," jelas Kusbiyantoro saat dihubungi detikbandung, Kamis (12/3/2009).
Karena itu, usul dia, pemerintah jangan hanya menawarkan pembangunan kareta gantung, namun juga harus mengaitkannya dengan potensi di sekitar proyek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut kata dia, pemda bisa membuat beberapa paket yang ditawarkan ke investor yang berbeda. "Misalkan radius sekitar seratus meter diberikan ke investor anu, trus di radius lainnya ditawarkan ke investor yang berbeda. Nantinya Bandung akan mempunyai beberapa titik kereta gantung," usul dia.
Dia menambahkan karena SAUM tak pernah untung, sebaiknya pemerintah jangan mengandalkan pinjaman dari luar negeri. "Pemerintah kita kan belum kaya. Nanti pemda hanya akan terus membayar utang, padahal enggak untung. Jelas ini akan membebani," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Wagub Jabar Dede Yusuf mengusulkan dibangunnya kereta gantung untuk mengatasi kemacetan di Bandung. Kereta gantung yang diusulkan Wagub akan mengitari mulai wilayah Baleendah (Kabupaten Bandung), Padalarang (Kabupaten Bandung Barat), Kota Cimahi, Kota Bandung, sampai Jatinangor (Kabupaten Sumedang).
Sementara Wali Kota Bandung Dada Rosada pun sempat melontarkan ide untuk membangun subway di Bandung. Dadab tengah membidik pinjaman dari China ke Bappenas.
(ern/ern)










































