Teten Anwar (43) seorang perajin perlengkapan membuat tahu mengatakan tidak ada penunjang yang bisa membuat usaha mereka lebih berkembang. Baik dari sisi modal maupun pemasaran.
Para perajin yang cukup potensial cukup terhambat ketika tidak memiliki modal lebih untuk memenuhi pesanan dalam jumlah banyak. Begitupun dari sisi pemasaran. Meski pemerintah sering memberikan pelatihan-pelatihan terhadap para perajin tapi tidak ada tindak lanjut yang lebih berarti untuk perkembangan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita butuh koordinasi yang bisa menjembatani. Butuh yang merekrut produk kita," ucap Teten.
Bahkan Koperasi Perajin Pandai Besi yang jadi tumpuan untuk menjadi jembatan kini tidak lagi berjalan sebagai fungsinya. Padahal, melalui koperasi para perajin setidaknya bisa menikmati bahan baku dengan harga yang lebih miring.
"Kita berjalan masing-masing," ucapnya.
Hal serupa juga dikeluhkan oleh Didih (58). Menurut Didih saat ini koperasi memang sudah tidak berfungsi. Para perajin berjalan masing-masing. Untuk para perajin yang kuat modal bisa memproduksi lebih banyak. Sementara perajin dengan modal minim hanya bisa berproduksi seadanya.
"Pemerintah jangan cuma memberi pelatihan saja, tapi juga bantu memasarkan," tambah Teten.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ema/rks)











































