Melatih Kecerdasan Anak dengan Mainan Rakyat

Melatih Kecerdasan Anak dengan Mainan Rakyat

- detikNews
Selasa, 03 Mar 2009 14:15 WIB
Melatih Kecerdasan Anak dengan Mainan Rakyat
Bandung - Masih ingat dengan momobilan dari bambu atau pepeletokan? Mereka yang pernah memainkannya tentu masih ingat. Saat ini nama-nama itu sudah sangat jarang terdengar ketimbang playstation.

Banyak hal berubah dalam budaya masyarakat di Jawa Barat. Dari soal politik, ekonomi, gaya hidup sampai yang paling sederhana soal mainan. Momobilan dan pepeletokan merupakan nama-nama mainan yang sudah mulai ditinggalkan anak-anak di Jawa Barat.

Inilah yang membuat Zaini Alif, seorang dosen di Institut Teknologi Nasional. Apa yang membuat Zaini khawatir? Bukankah itu berupa sekadar mainan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zaini mengatakan permainan rakyat sebenarnya sangat memiliki nilai lebih dari sekadar mainan. Di permainan rakyat anak-anak diajarkan bagaimana memanfaatkan alam dan berkehidupan sosial.

Mainan itu biasanya dibuat dari bahan-bahan alam, seperti bambu. Saat anak hendak membuat mainan, ia akan mulai belajar mengenal bambu dan memahami fungsi-fungsi yang dimilikinya. saat proses pembuatan itulah, anak bisa membayangkan kekuasaan Pencipta alam raya mereka.

Secara sosial, anak-anak juga akan saling mengenal antar sesama. Karena kebanyakan mainan tradisi dimainkan dalam jumlah pemain yang banyak. Berbeda dengan playstation yang lebih sering dimainkan individual.

"Dalam setiap permainan rakyat untuk anak pasti selalu membutuhkan pertemuan dengan anak-anak lainnya untuk bermain," tambahnya.

Keresahan Zaini ini lantas ia tuangkan dalam sebuah komunitas. Zaini mendirikan komunitas yang isinya permainan anak-anak dengan nama Hong. Komunitas Hong pada 2006 lalu.

Hong dalam bahasa Indonesia memiliki arti bertemu. Menurut Zaini, dalam setiap permainan rakyat untuk anak pasti selalu membutuhkan pertemuan dengan anak-anak lainnya untuk bermain.

Anggota komunitas Hong sekitar 150 orang. Menurut Zaini, para anggotanya kebanyakan anak kecil, hanya seperempatnya saja anggotanya orang dewasa. Ia berujar Komunitas Hong didirikan sebagai tempat penelitian, belajar dan melestarikan permainan rakyat.

Komunitas Hong berada di Subang dan Bandung. Di Subang, komunitas Hong mendirikan Kampung Kolecer. Di kampung tersebut, segala aktivitas dipusatkan. Dari tempat bermain yang luas untuk anak-anak, hingga kegiatan menanam beraneka macam tumbuhan yang dapat dibuat untuk mainan. Setiap tahunnya terdapat Kolecer Festival dimana festival itu berisi beraneka mainan rakyat.

"Tempat melestarikan permainan rakyat memang kita pusatkan disana," ujarnya.

Dengan komunitas ini, Zaini berharap pemerintah dan masyarakat mau kembali memainkan mainan tradisi. Bukan untuk sekadar mengenang masa lalu, tapi mengangkat kembali nilai-nilai filosofi di balik mainan itu.

"Saya ingin punya museum. Museum itu berisi mainan Indonesia adalah segala rupa mainan yang ada di Indonesia, baik itu mainan asli Indonesia maupun mainan dari luar Indonesia. Museumnya nanti berisi beraneka mainan dari abad ke-13 hingga sekarang. Soalnya mainan tertua ada di abad 13," katanya.




Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.


(rks/rks)


Berita Terkait