Hal itu disampaikan Herpetolog dari ITB Djoko Tjahyono Iskandar dalam diskusi Forum Diskusi Satwaliar Indonesia (Foksi) di Kebun Binatang, Jumat, (27/02/2009).
Menurut Djoko efek pemanasan global terhdap lingkungan sudah terasa di beberapa negara berlapisan ozon tipis seperti Kanada, negara-negara Eropa, Australia sejak beberapa tahun lalu. Salah satunya ditandai dengan terjadinya pemusnahan massal species-species amfibi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data International Union for Conservation and Natural Resources (IUCN) menyebutkan sepertiga dari sekitar 6.000 jenis kodok di dunia terancam punah.
Katak dijadikan indikator karena hewan amfibi ini sensitif terhadap perubahan iklim dan perusakan lingkungan. Hal itu akan mempengaruhi jumlah populasi katak yang ada dalam suatu ekosistem. Selain itu dibandingkan hewan-hewan dengan populasi banyak katak paling mudah dideteksi keberadaannya sampai yang terkecil sekalipun.
Untuk Indonesia, kata Djoko, belum terlihat gejala-gejala yang serupa. Kondisi alam Indonesia masih relatif aman dari paparan sinar ultraviolet karena langit Indonesia masih dinaungi awan-awan tebal.
Ditambahkannya kalaupun terjadi penurunan populasi katak di Indonesia karena adanya perdagangan katak misalnya di Payakumbuh yang sudah lebih dari 10 tahun terjadi. "Hal itulah yang harus direm," ujarnya.
Melihat fenomena tersebut tak hanya harus mempertahankan populasi katak tapi lebih pada bagaimana menjaga lingkungan. Karena keberlangsungan makhluk hidup di habitatnya juga tergantung dengan lingkungan yang ditempati, tak hanya untuk katak.
Melakukan konservasi untuk amfibi pun menurut Djoko lebih sulit dibandingkan hewan-hewan besar seperti mamalia. Katak memiliki harga tawar yang rendah sehingga keberadaannya kurang diperhatikan orang. Untuk itu konservasi lingkungan lebih diutamakan daripada speciesnya.
Upaya-upaya untuk konservasi lingkungan di Indonesia sendiri masih belum menyeluruh. Sampai saat ini LSM-LSM lingkungan baru melakukan konservasi di wilayah-wilayah tertentu yang masih memiliki hutan-hutan seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Untuk konservasi secara menyeluruh berada di bawah wewenang Departemen Kehutanan. (ema/ema)











































