Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad Prof Dr Anas Subarnas, M Sc mengatakan tak semua jamu mengandung bahan alami. "Tidak semua jamu berbahan alami, sebagian ada yang menggunakan bahan kimia. Namun bila dikonsumsi sesuai dosis, jamu berbahan kimia tersebut tidak akan berbahaya," ucap Anas.
Hal itu disampaikan Anas usai acara orasi ilmiah 'Pengembangan Obat Baru Dari Sumber Daya Alam: Peran Kunci Farmakologi,' Jumat (20/2/2009) di Aula Graha Sanusi Kampus Unpad Dipatiukur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti obat yang dijual pada umumnya, jamu yang dicampur BKO memiliki dosis aman untuk dikonsumsi. Kalau dikonsumsi lebih, bisa membahayakan para pengguna obat herbal ini," jelas Anas.
Anas pun mencontohkan beberapa produk jamu yang menggunakan BKO, seperti jamu anti rematik dan asam urat. "Untuk jamu anti rematik biasanya terdapat bahan Fenilbutazon yang cenderung merusak daya tahan tubuh. Lalu pada jamu asam urat biasanya mengandung Dexametason yang bisa merusak ginjal. Kedua bahan kimia tersebut bisa merusak kesehatan jika dikonsumsi secara tidak teratur," ungkap Guru Besar yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Farmasi Unpad ini.
Ditambahkan Anas, untuk menghindari efek samping jamu berbahan obat kimia sebaiknya masyarakat mengonsumsi jamu yang tidak berbahan kimia. "Obat herbal atau yang biasa kita kenal dengan jamu, lebih aman dikonsumsi dari obat-obatan kimia," ungkap Anas. (ern/ern)











































