Dedi Supriatna (31) salah seorang perajin tahu Cibuntu mengatakan harga kedelai terus berubah-ubah. "Dalam sehari atau dua hari saja harganya bisa berubah-ubah," tutur Dedi saat ditemui detikbandung, Senin (16/2/2009).
Menurut Dedi, kedelai yang digunakannya masih kedelai impor dari Amerika. Begitupun dengan perajin-perajin lain yang jarang menggunakan kedelai lokal. Kurs dollar terhadap rupiah yang tidak stabil itulah yang membuat harga kedelai terus mengalami fluktuasi. Tapi mau tak mau Dedi tetap mengikuti harga pasar yang terus berubah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Dedi sendiri masih belum memahami tindakan penghentian subsidi dari pemerintah tersebut. Harga kedelai yang saat ini masih ada di atas Rp 6 ribu per kilonya dinilainya masih memberatkan.
"Ya, setidaknya tiga kali dalam setahun ada subsidi," harap Dedi. Selain itu Dedi mengharapkan kedelai-kedelai lokal bisa lebih berkembang baik secara kualitas maupun kuantitas.
Dedi yang sudah menjadi perajin tahu selama 10 tahun ini mengatakan mendapatkan bahan baku kedelai dari Koperasi Tahu Tempe Indoesia (Kopti). Namun diakuinya, di antara sekian banyak perajin tahu di Cibuntu mungkin hanya dirinya yang mengambil kedelai dari Kopti. Hal itu terkait dengan pabriknya yang menyewa dari Kopti.
Mendukung pernyataan Dedi, Ocen (57) mengatakan harga kedelai saat ini memang masih ngambang. Belum ada harga pasti karena harga kedelai berubah-ubah. Ocen pun menyatakan sebagian besar perajin memang tidak lagi mengambil kedelai dari Kopti. Para produsen lebih memilih memisahkan diri dari Kopti dan membeli kedelai ke pedagang-pedagang lain. Ocen menilai, ketidakprofesionalan pengurus Koptilah yang membuat para perajin emoh membeli kedelai dari koperasi.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ema/rks)











































