"Saya mengimbau pada tiap perguruan tinggi, ospek ditinjau ulang manfaat, untung dan ruginya," kata orangtua Dwiyanto, Daryanto, usai bertemu dengan Kapolres Cimahi AKBP Purwolelono di Mapolresta Cimahi, Senin (16/2/2009).
"Kalau toh ospek ada keuntungannya, maka perlu ada pengawasan sangat ketat dari pihak kampus. Perlunya teknis yang jelas sehingga tidak terjadi korban berikutnya," sambung Daryanto.
Daryanto mengatakan, jika dirinya tidak pernah mengira ospek yang digelar oleh Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ITB mengakibatkan tewasnya Dwiyanto. Yang terpikirkan olehnya, kegiatan ospek berupa sukuran.
"Keluarga tidak pernah berpikir sejauh itu bahwa pelaksanaan ospek di Lembang. Kami hanya berpikir ospek dilakukan di tempat tertentu seperti sukuran," kata Daryanto.
Meski putranya telah tiada, Daryanto mengikhlaskan Dwiyanto. Bahkan keluarga menolak dengan tegas otopsi yang akan dilakukan pihak kepolisian guna melengkapi berkas penyidikan.
Diketahui sebelumnya, Daryanto dimintai persetujuan oleh polisi untuk merestui rencana otopsi jasad Dwiyanto. Namun keluarga membalas tertulis permintaan polisi untuk melakukan proses otopsi.
"Dari keluarga menolak untuk dilakukan otopsi," tegas Daryanto.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ahy/rks)











































