Hal tersebut terlihat pada acara Pemilihan Putri Jaipong yang digelar di Bandung Trade Mal (BTM), Jalan Ibrahim Adji, Sabtu (14/2/2009). Acara yang diadakan hingga besok itu, pesertanya mulai kalangan anak TK hingga dewasa.
Menurut Dadang Supriatna, pengurus Padepokan Sekar Panggung, pentas jaipong di manapun berada tidak bakal mati walau ada stigma miring yang saat ini masih bergulir. Dia menilai, masyarakat jangan memandang seni jaipong itu dengan bagian dari pornoaksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirinya menambahkan, para pegiat seni jaipong dan pengelola EO sudah bersepakat untuk mempertunjukkan tarian jaipong di setiap acara. "Ini bukti kepada masyarakat, bawa gerakan jaipong tetap bagian suatu seni yang bukan mempertontonkan pornoaksi," jelasnya.
Senada dilontarkan salah seorang koreografer jaipong, Jeni. Pria yang juga pemilik Jeni Studio ini menyatakan tarian jaipong sah-sah saja melakukan gerakan 3G dan terlihat ketiak. "Penari jaipong itu mesti bergerak lepas. Kalau dibatasi seperti itu, maka gerakan akan menjadi kaku. Tari jaipong iu butuh gerakan energik," katanya.
Menurut dia, masyarakat mestinya melihat tarian jaipong itu dengan berpikir positif serta mengedepankan gerakan seninya. Bila ditonton seperti itu, maka tidak terlintas pikiran yang ngeres.
"Nonton jaipong itu harus berpikir positif. Kalau mikirnya tidak positif atau macam-macam, jelas bakal timbul birahi," ujarnya.
(bbp/ern)











































