Hal itu diungkapkan Pimpinan Sanggar Jaipong Gondo Art Production dari Purwakarta, Gondo, di Taman Budaya Jabar, Jalan Ir Juanda, Senin (9/2/2009).
Gondo menceritakan sempat ada salahsatu muridnya yang tidak mau latihan bahkan hampir keluar sanggar karena takut. "Murid sanggar saya itu lihat di tv katanya jaipong dilarang, jadi dia takut," kata Gondo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, katanya, dari 200 murid sanggarnya itu, hanya sedikit sekali yang bereaksi semacam itu. "Ya bisa dikatakan tak terpengaruh," tambahnya.
Hal serupa juga dikatakan pimpinan sanggar lainnya yaitu, Buyung Rumingkang dari Jaipong Art Rumingkang. "Tidak ada komentar tentang itu dari murid2 saya, mungkin masih kecil jadi tidak mengerti," kata Buyung.
Dalam latihan yang dilakukan di taman budaya dago pun terlihat belasan anak mulai dari 5 tahun sampai sma tekun berlatih tari Jaipong. Mereka antusias saat menerima instruksi dari pelatih dan juga saat menari.
Salah satu murid sanggar Rumingkang ini mengaku ikut kegiatan tari jaipong karena ingin mendapat banyak teman. "Senang jadi banyak teman," kata putri (8). "Seneng, tari jaipong bagus," komentar Ia (5) saat ditanya mengapa menyukai tari jaipong.
Ketika ditanya apakah mereka mengetahui tentang adanya imbauan dari gubernur untuk mengurangi goyangan, semua murid pun hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Tapi jaipong kan harus ada goyangan," kata Salma (6) dengan polos.
Dalam latihan tersebut, anak-anak ini menggunakan kain bawahan berupa rok ditambah dengan stagen. Mereka juga melakukan 3G dalam latihannya. "Dalam tari jaipong ini kita menggabungkan tari modern seperti balet, kontemporer, silat dan lainnya, jadi geolan tidak mendominasi," ungkap Buyung.
(ern/ern)