Pantauan detikbandung di pasar tanaman hias di Jalan Cibeunying, oleander nerium dan pohon bintaro dijual. Para pedagang di sana mayoritas telah mengetahui sejak lama, jika keduan pohon tersebut beracun.
"Iya saya sudah tahu sejak lama kalau oleander beracun. Setahu saya kalau kena getahnya gatal," ujar salah seorang pedagang, Hendin (33), saat ditemui detikbandung, Jumat (30/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hendin mengaku menjual oleander berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu. Sementara untuk
pohon bintaro setinggi 1 meter dijual Rp 300 ribu. "Nah kalau pohon bintaro, saya tidak tahu apakah berbahaya atau tidak," ujar Hendin.
Hal yang sama juga dikatakan Asep Saefuillah (43). Menurutnya meski beracun, tanaman oleander banyak diminati konsumen. "Banyak pemintanya karena bunganya indah seperti bunga sakura," ujarnya.
Lagipula, kalau hanya sekedar dipandang tak berbahaya. "Yang berbahaya itu kan kalau dimakan," cetus Asep.
Selain di Taman Cibeunying, di sentra penjualan tanaman hias di Tegallega pun, oleander nerium pun ditemukan. Namun, berbeda dengan pedagang di Cibeunying, pedagang tanaman hias di Tegallega mengaku tidak mengetahui kalau oleander beracun.
"Dari dulu saya sudah jual oleander, tapi baru tahu sekarang kalau ini beracun," ujar Dodo (25), salah seorang penjual tanaman di Tegallega.
Hal senada juga dikatakan Ujang (34). Menurutnya selama dia berdagang oleander, belum pernah ada pembeli yang komplein karena keracunan.
"Tapi kalau memang ada penelitian kalau tanaman ini beracun, seharusnya pemerintah mensosialisasikannya. Kalau seperti ini, malah menyudutkan pedagang. Nanti pembeli jadi takut. Padahal pembelian sudah sepi," keluhnya.
(ern/ern)











































