Sebotol Soft Drink untuk Satu Telepon Umum

Sebotol Soft Drink untuk Satu Telepon Umum

- detikNews
Jumat, 30 Jan 2009 09:44 WIB
Sebotol Soft Drink untuk Satu Telepon Umum
Bandung - Siapa tak kenal dengan telepon umum, fasilitas kota yang terkenal sebagai tempat Clark Kent mengubah dirinya menjadi Superman ini kian hari kian miris nasibnya. Tak sedikit telepon umum koin yang sudah rusak. Box telepon umum berwarna biru pun kerap menjadi media coret-coretan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Kondisi ini sepertinya tak mengherankan. Sebab, untuk biaya perawatan satu telepon umum per bulannya, sama dengan harga satu botol soft drink, yaitu berkisar Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu.

"Biaya perawatan untuk satu telepon umum hanya Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per bulan. Padahal untuk tahun 2006, biaya perawatan bisa mencapai Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per bulan. Ini disebabkan pihak Telkom enggan mengolah fasilitas tersebut menjadi lahan bisnis," ujar Made Subudi Manajer Akses Performance & Q.O.S Divre 3 PT Telkom Jabar.   
 
Seiring berkembangnya teknologi komunikasi terutama handphone, telepon umum sudah tidak mengghasilkan keuntungan bagi PT Telkom. "Secara bisnis, telepon umum sudah sangat tidak menguntungkan PT Telkom," ujar Made.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sehingga bisa dikatakan keberadaan telepon umum di beberapa sudut kota, hanya sebuah misi sosial. "Boleh dikatakan kalau telepon umum ini merupakan 99 persen misi sosial. Selain itu Telkom juga berpatokan pada peraturan Menkominfo yang menyuruh kalau semua, operator telekomunikasi harus menyediakan fasilitas publik," tutur Made.

Banyaknya telepon umum koin yang tidak terawat dan sering dijahili oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab, akhirnya membuat Telkom merelokasi letak telepon umum tersebut. "Daerah telepon umum yang tidak padat pemakai dan rawan kriminal, biasanya kita relokasi keberadaannya," jelas Made.

Sependapat dengan Made, pakar tata kota ITB Ir Binsar mengatakan telepon umum yang berada di pusat-pusat kegiatan sebaiknya tetap dipertahankan. "Yang tidak terjaga dan terpencil dipindahkan saja," ujarnya.

Fasilitas kota yang sempat menjadi tren pada tahun 90-an ini, saat ini berjumlah 1.629 pesawat untuk wilayah Bandung dan sekitarnya.  Mayoritas atau sekitar 70 persen, telepon umum yang berjenis shelter (yang menyediakan tutup kepala),  15 persen telepon umum yang berjenis console (yang memakai box) dan 15 persen telepon umum yang berjenis wall mounted (yang menempel di dinding). (ern/ern)


Berita Terkait