Kondisi ini sepertinya tak mengherankan. Sebab, untuk biaya perawatan satu telepon umum per bulannya, sama dengan harga satu botol soft drink, yaitu berkisar Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu.
"Biaya perawatan untuk satu telepon umum hanya Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per bulan. Padahal untuk tahun 2006, biaya perawatan bisa mencapai Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per bulan. Ini disebabkan pihak Telkom enggan mengolah fasilitas tersebut menjadi lahan bisnis," ujar Made Subudi Manajer Akses Performance & Q.O.S Divre 3 PT Telkom Jabar.
Seiring berkembangnya teknologi komunikasi terutama handphone, telepon umum sudah tidak mengghasilkan keuntungan bagi PT Telkom. "Secara bisnis, telepon umum sudah sangat tidak menguntungkan PT Telkom," ujar Made.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyaknya telepon umum koin yang tidak terawat dan sering dijahili oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab, akhirnya membuat Telkom merelokasi letak telepon umum tersebut. "Daerah telepon umum yang tidak padat pemakai dan rawan kriminal, biasanya kita relokasi keberadaannya," jelas Made.
Sependapat dengan Made, pakar tata kota ITB Ir Binsar mengatakan telepon umum yang berada di pusat-pusat kegiatan sebaiknya tetap dipertahankan. "Yang tidak terjaga dan terpencil dipindahkan saja," ujarnya.
Fasilitas kota yang sempat menjadi tren pada tahun 90-an ini, saat ini berjumlah 1.629 pesawat untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Mayoritas atau sekitar 70 persen, telepon umum yang berjenis shelter (yang menyediakan tutup kepala), 15 persen telepon umum yang berjenis console (yang memakai box) dan 15 persen telepon umum yang berjenis wall mounted (yang menempel di dinding). (ern/ern)











































