Presiden Republic Entertainment Wawan Juanda mengatakan digelarnya Bandung Festival mulai September hingga Oktober 2009 untuk menyambut usia Kota Bandung ke 200 tahun, sebagai salah satu cara untuk mencari identitas baru Kota Bandung yang sebenarnya.
"Selama ini sudah banyak sebutan nama buat Bandung, ada Bandung Kota Kembang, Bandung kota Asia Afrika dan lainnya. Tapi kota selalu berkembang dan kita tidak bisa stagnan untuk memberikan identitas pada Kota Bandung," jelasnya jumpa pers di CCF, Jalan Purnawarman, Selasa (27/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, kata dia, pemerintah masih kurang memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan even di Bandung. Contohnya masalah perizinan yang selalu lambat ke luar. Karena itu banyak even yang seringkali gagal, karena ketidakpastian atau keterlambatan izin dari pemerintah.
"Parpol saja kalau kampanye cukup memberitahu, kenapa even masyarakat yang memberikan sumbangsih ekonomi dan pariwisata, perizinanya susah," ujarnya.
Hal ini diamini General manager Hotel Aston Bandung Irmansjah Madewa. Menurut dia karena persoalan birokrasi dan ketidakpastian tanggal acara, banyak wisatawan yang tidak memiliki cukup informasi, mereka pun ragu-ragu untuk datang ke Bandung.
"Ya paling mereka mengunjungi tempat wisata yang sudah ada. misal wisata kuliner atau alam, baju, tapi even budaya masih ragu-ragu," katanya.
Ditemui di tempat yang sama, Kadisparbud M Asykary membantahnya. Pemerintah dinilainya cukup memberikan kontribusi. "Kita sudah cukup kontribusi kok! Lagipula pemkot memang hanya bertugas sebagai fasilitator," katanya.
Ketika ditanya sudah berapa banyak even yang diselenggarakan sepanjangh 2008, Asykary menyatakan sekitar 1.286 even. Aaduh kan saya tidak pernah menghadiri semuanya," ujarnya saat ditanya apakah ramai oleh pengunjung atau tidak.
(ern/ern)










































