Hal itu dikatakan Ketua DPRD Bandung Husni Muttaqien, saat ditemui di Gedung Dewan, Jalan Aceh, Senin (19/1/2009).
"Untuk studinya saja baru akan dianggarkan pada 2010. Jadi wajar kalau warga curi-curi kesempatan. Ini masalah perut," ujar Husni.
Menurutnta dewan masih menunggu adanya konsep yang jelas dari pemerintah mengenai revitalisasi Saritem. Diakui Husni, pemerintah memang mengulirkan beberapa wacana seperti akan dibangun Islamic Centre, kawasan perdagangan, ataupun kawasan terbuka hijau.
"Tapi hingga kini belum jelas. Tahun ini tidak ada anggaran khusus yang diberikan untuk kawasan Saritem, yang ada hanya untuk pembebasannya saja," jelasnya.
Jika melihat RTRW, kata Husni, dewan lebih sepakat untuk menjadikan kawasan perdagangan seperti Cihampelas dan Cibaduyut. "Kalau mau dijadikan RTH juga saya setuju, tapi jangan semua," ujar Husni.
Menurut Husni untuk mengantisipasi kembali beroperasinya praktik prostitusi di kawasan Saritem, perlu adanya pemberdayaan masyarakat. "Jangan hanya menyerahkan ke Satpol PP untuk pembersihan Saritem," tegurnya.
Sambil melakukan pemberdayaan, masyarakat juga harus dilibatkan untuk menyusun konsep revitalisasi kawasan Saritem. "Pemerintah jangan membiarkan Saritem begitu saja setelah ditutup," tandasnya.
Polresta Bandung Barat menangkap beberapa orang pemilik dan calo, serta kasir pada Sabtu Malam di tiga rumah yang dijadikan praktik prostitusi. Namun polisi tidak menemukan PSK.
(ern/ern)











































