Warung solidaritas tersebut berdiri 29 Desember 2008 lalu. Letaknya persis di belakang bangunan hotel Grand Aquila. "Sengaja kami buka di sini, biar dekat dengan lokasi aksi kami. Karena kami bakal terus-terusan aksi di depan hotel sebelum hak berserikat dipenuhi," ujar Sangkot, Ketua SPM Grand Aquila.
Modal warung berasal dari sumbangan anggota serikat sebesar Rp 250.000. Kebutuhan lain seperti peralatan masak sebagian disumbang dari Ma' Onong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gurih juga, dan harganya murah," Ujar Ari, pembeli di warung bubur Bu Onong saat ditanya tanggapannya soal rasa dan harga bubur.
Pendapat itu bisa jadi benar. Soalnya, Onong, sebelum dikeluarkan dari hotel, adalah Asisten Executive Chef Aquila. Beberapa menu yang identik dengan kehandalan Chef satu ini seperti, Botram Raos, Cobek Mak Onong, dan buburnya. Menu itu menjadi favorit hotel bintang lima tersebut.
"Sekarang saya tidak masak buat hotel. Tapi buat anak-anak SPM dan warga saja," ujar Bu Onong tertawa.
Sejak dibuka Desember tahun lalu, warung ini mendapat pendapatan lumayan. Rata-rata per harinya habis 60 mangkuk. Satu mangkok seharga Rp 5.000.
Rencananya, Ma' Onong dan SPM akan membuka cabang di beberapa tempat. Selain warung, ada pula usaha jual kaos.
"Warung ini untuk melindungi dan menyediakan kebutuhan gerakan. Kami berusaha mandiri," tambah perempuan lajang ini.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(rks/ema)











































