Menurut Kepala BMKG Bandung, Jaya Murjaya, gelombang pasang ini disebabkan oleh perbedaan tekanan angin antara Indonesia dengan Australia. Jaya mengatakan situasi ini tidak aman untuk pelayaran.
"Terutama untuk nelayan tradisional, situasi ini tidak aman untuk melaut," ujarnya usai rapat koordinasi penanganan bencana dan mitigasi bersama Wagub Jabar di Gedung Sate, Jumat (16/1/2009).
Saat disinggung sampai kapan gelombang pasang membahayakan nelayan, Jaya mengatakan tidak tahu pasti. Tapi ia yakin tidak sampai akhir Januari.
"Tidak lama. Gelombang akan kembali normal jika terjadi keseimbangan tekanan. Saat ini tekanan dari Australia mulai meningkat. Kalau terus meningkat dan sama dengan tekanan yang ada di kita, situasi akan normal," ujarnya.
Sementara itu, terkait dengan kondisi curah hujan di Jawa Barat, curah hujan akan mencapai puncaknya pada bulan Februari. Rata-rata curah hujan sebesar 250 milimeter. Tingkat curah hujan yang tinggi harus diawasi terutama di daerah yang rawan longsor dan banjir.
"Saya himbau masyarakat harus lebih hati-hati terutama yang berada di daerah rawan bencana," tambahnya.
Sementara itu wagub jawa barat, Dede Yusuf, telah menginstruksikan Badan Koordinasi Wilayah di Jabar untuk lebih aktif dalam melakukan mitigasi bencana. Ia mewanti-wanti, beberapa ancaman bencana yang bisa terjadi di beberapa daerah di jabar.
Ancaman gempa berada di pesisir selatan jawa barat. Ancaman banjir di kawasan Bekasi, Karawang, Subang dan Indramayu. Ancaman longsor dikhawatirkan terjadi di Tasik, Garut, Kabupaten Bandung dan Cianjur.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (rks/ahy)











































