Hal ini disampaikan Humas Tol Purbaleunyi Iwan Mulyawan saat ditemui wartawan di tempat kejadian, Selasa (13/01/09). Longsor diduga terjadi karena tebing bukit berbatasan langsung dengan sawah yang dikelola masyarakat. Saat terjadi hujan besar, gerakan air tanah menuju ke yang lebih rendah sehingga pori-pori tanah di bagian dasar tebing menjadi rentan gembur sehingga mengurangi kekuatan tanah dan menyebabkan longsor.
"Jadi longsor itu terjadi dari bagian bawah dulu baru atas," ujar Iwan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tebing yang dipapas ditambah kekuatannya dengan penembokan menggunakan batu kali di permukaannya setinggi kira-kira 10 meter di sisi kanan, dan sekitar lima meter di sisi kiri.
Dilanjutkan Iwan, kilometer 114 sebenarnya bukanlah daerah yang paling diperhatikan mengenai kerawanan longsornya oleh Jasa Marga atau pengelola Tol Purbaleunyi. Daerah yang diperkirakan rawan yaitu kilometer 92, 96, 97 dan 98.
"Tadi pagi sudah dicek oleh patroli keΒ di kilometer 114 dan tidak ada tanda-tanda. Tetapi 15 menit baru terjadi longsor. Pemeriksaan itu dilakukan sekitar jam 11.00 WIB. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, itu bencana," ujarnya.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(lom/lom)











































