"Kami dari OSIS saja bukan dari sekolah," tutur Reni, siswa kelas II saat mengobrol dengan detikbandung, Senin (22/12/2008). Menurut Reni lokasi sekolah yang dekat dengan museum menjadi salah satu alasan. Sejak SD mereka sudah sering datang ke museum Sri Baduga.
"Dekat dengan sekolah, sejak SD pun saya sudah sering ke sini," aku Reni. Apalagi menurut Reni, museum Sri Baduga kini banyak perubahannya. Perubahan-perubahan itulah yang dia senangi. Termasuk adanya replika manusia gua yang tengah ada di dalam guanya yang sejak tadi menjadi pusat perhatian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak September 2007 lalu, pemerintah mulai melakukan revitalisasi museum yang terdiri dari tiga lantai tersebut. Sampai saat ini baru lantai satu yang mengalami perubahan wajah.
Pembangunan museum yang terletak di Jakan BKR 185 ini akan dilakukan secara bertahap sampai 2013 mendatang. Perubahan akan dilakukan dari segi interior, panel grafis, penataan materi, serta alur cerita museum.
Awalnya Museum Sri Baduga adalah Museum Negeri Jawa Barat yang dibangun pada tahun 1974. Museum diresmikan 5 Juni 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, DR. Daoed Yoesoef.
Barulah pada tahun 1990, nama Sri Baduga ditambahkan sebagai nama museum. Setelah pemberlakuan otonomi daerah, namanya menjadi Museum Negeri Sri Baduga.
Bangunan museum memadukan model rumah panggung dengan arsitektur modern. Bagian atap bangunan berupa suhunan panjang. Sebelumnya, bangunan ini adalah kantor kewedanaan yang kini dilestarikan sebagai bangunan benda cagar budaya.
Saat ini museum Sri Baduga memiliki 6500 koleksi yang diklasifikasikan dalam 10 disiplin ilmu antara lain geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, teknologika, dan lain-lain.
Di lantai satu misalnya, mengungkap sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Bukti-bukti peninggalan sejarah dari masa ke masa berupa fosil, benda-benda yang digunakan pada jaman prasejarah juga replika-replika arca.
Lantai dua berkisah tentang masyarakat tradisional di Jawa Barat. Perkembangan tatanan kehidupan sosial berikut benda-benda yang menyertai keseharian yang masyarakat kala itu.
Lantai tiga lebih dikerucutkan kepada seni budaya seperti rumah tradisional, alat musik tradisional, pembuatan gerabah, aneka batik seni rupa dan pakaian pengantin tradisional.
Untuk meningkatkan angka kunjungan, sebelum dilakukan revitalisasi bangunan pihak museum Sri Baduga pun membuat kegiatan-kegiatan pancingan.
Contohnya pameran temporer yang diselenggarkan setahun sekali, pameran keliling ke daerah-daerah sampai aneka lomba yang berkaitan dengan materi museum.
(ema/ern)











































