Menurut Ketua Penyelenggara Workhsop Oral History, Regi Kayong, oral history agak terlupakan dalam pengungkapan sejarah. Hal ini karena tradisi ilmu sejarah berangkat dari keyakinan di Eropa abad ke-19 yang menyebut sejarawan hanya bekerja dengan dokumen, tanpa dokumen tidak ada sejarah.
"Oral history berasal dari keterangan saksi-saksi suatu peristiwa secara langsung. Metode ini bisa menjadi alternatif mengenali persoalan dari sudut pandang personal," ujar Regi di Common Rooms, Jalan Kyai Gede, Sabtu (20/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ide para peserta workshop bisa apa saja. Dari musik, seni, budaya, bisnis, dan lain-lain. Tapi ada metode ilmiah yang dilalui," tambahnya.
Misalnya Gilang, siswa kelas tiga SMU 11 Bandung ini, penasaran dengan bisnis keluarga yang terjun ke bisnis kusen. Dari mulai nenek, ayah, saudarnya semuanya berbisnis kusen dan masing-masing saling bersaing.
Gilang penasaran dengan kebiasaan keluarganya tersebut. Tapi tidak tahu cara mengungkapkannya. Sampai ia bertemu dengan metode pengungkapan sejarah yang disebut sejarah lisan.
"Udah lama saya ingin tahu dan menuliskannya," ujar Gilang saat mengikuti workshop.
Workshop Oral History akan berlangsung sampai 10 Januari 2009. Acara ini masih terkait dengan peringatan 60 tahun deklarasi HAM universal. Hasil penelitian oral history yang dilakukan 15 peserta ini akan menjadi bahan tertulis, foto dan video.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ema/ema)











































